Sosial & Budaya

Yogyakarta Kota-nya Pelajar Dan Budaya

Nofal liata

Sejarah Singkat Yogyakarta

Pemukiman awal kota Yogyakarta secara resmi terbentuk 7 Oktober 1756. Adalah Kraton yang menjadi pusat kota awal didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I.[1] Pendirian Kesultanan Yogyakarta itu diawali oleh perjanjian Gianti pada 13 Februari 1755 yang di prakarsai oleh VOC (Vereenigde Oostindieche Compagnie)[2] sebagai upaya memecah-belah dan membagi kerajaan mataram menjadi dua, separuh wilayah dikuasai oleh Sri Susuhan Pakoe Boewono III dengan Ibu kota Surakarta dan yang lain dikuasai oleh Sri Susuhan Kabanaran –yang sejak itu berganti gelar Sri Hamengku Buwono I. Wilayah yang dikuasai Sri Hamengku Buwono I itulah yang merupakan wilayah Yogyakarta sekarang.[3]

         Hamengkubuwono I meninggal pada bulan Maret 1792 pada usia kira-kira delapan puluh tahun, setelah menjadikan Yogyakarta  sebagai sebuah kerajaan yang makmur, permanen, dan kuat. Dia mewariskan suatu tradisi kerajaan Jawa yang ingin di teruskan oleh putranya yang kini bergelar Hamengkubawana II (1792-1810, 1811-12, 1826-8). Akan tetapi, persekongkolan-persekongkolan sudah terbentuk di antara pembesar Yogyakarta yang termasuk generasi muda. Dan keyakinan mereka bahwa bangsa Eropa merupakan  faktor yang bisa di abaikan atau di mamfaatkan semuanya, kenyataanya segera kehilangan basisnya. Meskipun demikian, semacam restaurasi telah tercapai pada tahun 1792. Yogyakarta merupakan Kerajaan Jawa yang paling merdeka dan paling kuat sejak abad XVII, dan Hemengkubuwana I merupakan raja terbesar dari bangsa Mataram sejak sultan Agung. Namun kerajaan jawa tersebut terbagi secara tetap (Surakarta-Yogyakarta) sehingga tidak dapat bersatu padu dalam menghadapi acaman orang-orang Eropa yang akan muncul dari VOC pada awal abad XIX.[4]

         Pada dasawarsa terakhir abad XVIII Kerajaan-kerajaan Jawa Surakarta dan Yogyakarta, menghadapi banyak masalah, tetapi kedua kerajaan lebih merdeka dari tekanan Eropa dari pada kerajaan Jawa lainya sejak akhir abad XII. Golongan elit bangsawan masih berkuasa, dan khususnya di Yogyakarta telah di selesaikan suatu pemulihan kerajaan secara besar-besaran. Akan tetapi konflik-konflik internal akan segera mengakibatkan timbulnya krisis bagi Yogyakarta, justru ketika ancaman orang-orang Eropa muncul lagi secara tiba-tiba. Akibatnya adalah hancurnya kemerdekaan Jawa secara total dalam waktu kurang dari empat puluh tahun sesudah meninggalnya Hamengkubuwana I, dan dimulainya zaman penjajahan yang sebenarnya dalam sejarah Jawa, Yogyakarta.[5]

Gambaran Umum Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Yogyakarta) dan seringkali disingkat DIY, Kota Yogyakarta (kotamadya, nama lain yang akrap yaitu, Yogya, Jogja, Yogyakarta, Jogjakarta) adalah termasuk kedalam sebuah kota besar di Indonesia, dan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa, selain itu berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara. Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Daerah tersebut terkena bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengakibatkan 1,2 juta orang tidak memiliki rumah.[6] Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa revolusi (pada tahun 1946-1949)[7]. kota  Yogyakarta ini adalah ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X (sebagai gubenur yang ditetapkan) dan Pangeran Pakualam.

Dasar filosofi pembangunan Yogyakarta adalah “Hamemayu Hayuning Bawana”, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Hakekat budaya adalah hasil “cipta, karsa dan rasa”, yang diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan indah. Demikian pula budaya daerah di DIY, yang diyakini oleh masyarakat sebagai salah satu acuan dalam hidup bermasyarakat, baik ke dalam (Intern) maupun ke luar (Extern).[8]

Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta  terdapat 4 kabupaten dan 1 kotamadya. Ibu kotanya adalah Kota Yogyakarta (kotamadiya). Berikut adalah kabupaten beserta Ibu Kota Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu: Kab.Sleman dengan luas 574,82 km2 Ibukotanya Sleman (Utara Ibu Kota Propinsi),  Kab.Gunung Kidul dengan luas 1.485,36 km2 Ibukotanya Wonosari (Timur Ibu kota Propinsi), Kab.Bantul dengan luas 506,85 km2 ibukotanya Bantul (Selatan Ibu Kota Propinsi), Kulon Progo dengan luas 586,28 km2  Ibukotanya Wates (Barat Ibu Kota Propinsi).

Berikut ini adalah mengenai data adminitratif propinsin Yogyakarta: Luas Daerah 3.185,80 km2, Jumlah Penduduk 4.3640.000 (+/-), Kepadatan 13.687/km2, jumlah Kabupaten 4 (Sleman, Gunung kidul, Bantul, Kulon Progo), Kodya/Kota 1 (kota Yogyakarta), jumlah Kecamatan 78 kecamatan, Kelurahan/Desa 440 kelurahan, Suku terdiri Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Melayu, Tionghoa, Suku Batak, Suku Minang, Suku Bali, Suku Madura. Agama terdiri Islam (92.1%), Katolik (4.9%), Protestan (2.7%), Lain-lain (0.2%), Bahasa yang digunakan Jawa, Bahasa Indonesia.[9]

Daerah Istimewa Yogyakarta sampai sekarang ini masih terpelihara dengan baik  kebudayaan Jawanya dan Daerah Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan Mataram antara 1575-1640. Sampai sekarang ini, Kraton (Istana) Yogyakarta dengan Raja Sri Sultan Hamengkubuwono X masih setia menjalankan dan melestarikan pemerintahan dalam arti yang sesungguhnya.

Kota Seni dan Budaya

Seni dan budaya merupakan suatu kegiatan yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta pada umunya. Sejak masih kecil hingga dewasa, masyarakat Yogyakarta sangat sering menyaksikan dan bahkan, berpartisipasi dalam berbagai acara pergelaran kesenian dan budaya di kota ini. Bagi masyarakat Yogyakarta, di mana setiap tahapan kehidupan di bumi ini meliliki arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting yang perlu dilestarikan dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Oleh sebab itu, tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tertentu. (seperti Sekaten,[10] acara tahunan). Masyarakat Yogyakarta memiliki kesenian yang sangatlah beragam. Dan kesenian-kesenian yang beraneka ragam tersebut terangkai indah dalam sebuah upacara adat. Sehingga bagi masyarakat Yogyakarta, seni dan budaya benar-benar menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Kesenian khas di Yogyakarta antara lain adalah kethoprak, jathilan, dan wayang kulit, selain itu aneka kerajinan ukir, kerajian perak (Kotagede), dan pasar seni ukiran dan ragam kerajinan di kabupaten Bantul dipasarkan di satu lokasi bernama Gabusan jalan Parantritis. Pasar Gabusan ini sudah di akses oleh masyarakat international (produknya Go-international)

Selain warisan budaya yang kaya, Yogyakarta memiliki panorama alam yang indah dan alami. Seperti hamparan sawah nan hijau menyelimuti daerah pinggiran kota,  sampai dengan Gunung Merapi (kab. Sleman) tampak sebagai latar belakangnya sebelah utara kota Yogyakarta. Pantai-pantai yang masih alami dan terus dalam pengembangan untuk objek wisata dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja (kab. Bantul), seperti Pantai Parangtritis, Pantai Baron, Pantai Samas, dan pantai Depok. Masyarakat di sini hidup dalam damai dan rukun, selain itu mayarakat Yogyakarta memiliki keramahan yang khas ala Jawa Kraton (santun). Hiruk-pikuk karya seni begitu terasa di Yogyakarta apa lagi di Malioboro dan pasar Bringharjo[11] (pasar rakyat terbesar) yang merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Yogyakarta, di situ juga dengan mudah kita menemukan hasil seni dan kerajinan yang di pasarkan. Kekhasan lain dari Malioboro yaitu musisi jalananpun selalu siap menghibur pengunjung di warung-warung lesehan.[12]

Sumber Ekonomi Masyarakat Yogyakarta

         Untuk menunjang perekonomian masyarakat di Yogyakarta, masyarakat Yogyakarta banyak pemasukan dari hasil cocok tanam (bertani), berdagang, berdagan kerajinan (seperti kerajinan wayang kulit, kerajinan perak, kerajinan ukir, keris, kerajinan anyaman dan masih banyak yang lain-lainnya). Selain itu, ada lagi pemasukan untuk masyarakat yang bersumber dari pengmaksimalan  objek wisata rekreasi (wisata alam, wisata pantai, wisata kota) untuk pemasukan bagi masyarakat sekitar objek wisata tersebut dan pemasukan untuk Pemda Daerah. Pemasukan uang jangka panjang di peroleh dari penanaman pohon Jati,  (infestasi).

         Khusus untuk masyarakat kotamadya Yogyakarta dan sebagian warga Kab.Sleman sebelah selatan dan Kab.Bantul sebelah Utara, sebagian besar dari tiga lokasi warga ini yang hidup dari keuntungan penyewaan rumah kontrakan dan rumah kost-kostsan untuk dunia pendidikan buat mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru daerah Nusantara yang selama menempuh S1, S2, S3 di berbagai macam universitas yang ada di Yogyakarta, (kota Pendidikan).

         Merupakan pemandangan yang biasa ketika sampai di Stasiun Yogyakarta atau di halte khusus tempat perhentian bus-bus pariwisata, parawisata domestik dan manca negara akan disambut oleh banyak tukang becak yang ramah-ramah. Mereka akan mengantarkan parawisata ke tempat tujuan mana saja yang layak untuk parawisata nikmati seperti toko baju, toko bakpia, mal, atau sekadar membeli cinderamata di Malioboro. Parawisatapun terkadang akan heran setelah tukang becak itu mengajak berkeliling kota seharian, karena mereka hanya akan meminta bayaran yang rendah di bandingkan transportasi yang ada di kota lain.

         Yogyakarta selain di kenal kota seni dan budaya, kota pendidikan, Yogyakarta juga dikenal dengan sebutan kota parawisata, dengan berbagai lokasi wisatanya. Jadi rekreasi yang di lakukan oleh parawisata maca negara dan parawisata domestik juga merupakan pemasukan ekonomi tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah daerah Yogyakarta.

Transportasi

         Di Yogyakarta, Transportasi yang ada terdiri dari transportasi darat (kereta api, bus umum, taksi, andhong (kereta berkuda), becak, dan udara (pesawat terbang) yang lokasi bandaranya di sebelah timur kotamadiya Yogyakarta dengan nama Bandara Adisicipto, tranportasi laut tidak ada. Menjelang Pada awal Maret tahun 2008 pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengoperasikan bus TransJogja yang beroprasi di dalam kota Yogya mulai pagi hingga jam 21:00 WIB, sebagai usaha untuk membuat transportasi di kota Yogya nyaman, murah, handal dan sebagai upaya untuk menekan angka populasi kendaran dari tahun-ketahun meningkat terus, dan juga sebagai upaya untuk menciptakan udara kota yang bersahabat.

         Jalur kereta api ke Yogyakarta dapat menggunakan kereta api dari Jakarta, Bandung atau Surabaya. Ada pula kereta api komuter cepat dengan Surakarta-Jogja dan sebaliknya yang bernama Pramek. Melalui jalur bus bisa dari semua penjuru kota di Pulau Jawa  menuju ke Jogja, baik dari jogja maupun ke kota tertentu di pulau jawa tersedia jalurnya. Di Yogyakarta jumlah terminal bus terbagi menjadi 3 tempat, (1) Terminal Bus Jombor (jalan Magelang, melewati perempatan Jln.Lingkar  Ringroad utara, sebelah kiri jalan), (2) Terminal Bus Condong Catur (jalan Gejayan Mrican, melewati perempatan Jln.Lingkar  Ringroad utara, sebelah kiri jalan), (3) Terminal Bus Umbul Harjo (jalan Perintis Kemerdekaan dan bisa melalui lewat jalan Veteran ).

         Yogyakarta kini Jalan-jalannya terus dalam perbaikan guna keyamanan pelayanan, dibandingkan tahun-tahun terdahulu karena komitmen pemerintah daerah Yogyakarta untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota pariwisata, komitmen ini bisa di lihat dengan dibuatkan sebuah TV raksasa di salah satu jalan raya Yogyakarta (area timur Malioboro) untuk berpromosi dan papan stasiun kereta api). Walaupun demikian, jalan-jalan di Yogyakarta juga tergolong sering mengalami kemacetan. Salah satu Faktor utama kemacetan di Yogyakarta adalah membludaknya sepeda Motor baik sepeda dari Yogya sendiri dan sepeda motor yang datang dari luar yang di gunakan oleh ribuan mahasiswa. Fenomena jumlah motor di Yogyakarta merupakan prospek pemborosan energi bensin  yang di abaikan oleh pemerintah. Dan Yogyakarta merupakan pasar motor terlaris di Indonesia. (perlu keseimbangan antara jumlah motor dan kapasitas proposional dan perlu layanan angkutan yang standar guna menekan angka pemborosan).

 

Hiburan Wisata

         Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat banyak objek wisata yang menarik yang banyak menyedot para pelancong (domestik dan manca) di ataranya seperti, Istana Air Taman Sari, Museum Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Monumen Jogja Kembali, Malioboro, Lereng Merapi, Kaliurang, kalikuning, Pantai Parangtritis, Pantai Baron, Pantai Samas, Pantai Depok, Goa Selarong, Candi Kalasan, Candi Prambanan, dan Kraton Ratu Boko.[13] objek wisata kuliner yang menarik Yogyakarta dikenal dengan makanan yang khas yaitu nasi Gudeg, dan aneka makanan murah, bergizi bisa di jumpai di kota Yogyakarta.

         Adalah Angkringan buat sapaan warung grobak kecil ini dengan menu pas di kantong mahasiswa (tidak mahal) bisa di temukan di seluruh sudut kota dan jumlahnya sangat banyak, dan satu lagi tersedia Warung Burjo (bubur kacang ijou, asal Sunda) yang membuka warungnya dua puluh empat jam, bisa di temukan di setiap sudut kota, ini juga adalah termasuk warung favorit mahasiswa Yogyakarta. Wisata kuliner lain yaitu, sate karang Kotagedhe, sate kelinci di Kaliurang, sego abang Njirak Gunung Kidul, warung Ayam Bakar Wong Solo dan masih banyak tempat wisata kuliner yang lain tersedia di kota yang penuh julukan ini.

         Sebutan kota Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi Propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata kedua setelah Bali. Bus Wisata Jumbo dari berbagai daerah Jawa terkadang bisa di jumpai di kota ini dan biasanya Bus-bus ini pakir di depan hotel-hotel ternama, dan pakir sebentar di Alun-alun utara Kraton. kemudian bus ini siap mengantarkan wisatawan ke objek-objek wisata yang telah di rencanakan. Berbagai jenis obyek wisata di kembangkan di wilayah ini, seperti Wisata Alam, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Seni (Gabusan), Wisata Kuliner, Wisata Pendidikan, bahkan yang terbaru Wisata Malam.

 

Kota Pelajar

         Selain dijuluki sebagai Kota Gudeg, Kota seni dan budaya, kota pariwisata Yogyakarta juga dijuluki sebagai Kota Pelajar. Julukan kota pelajar memang pantas untuk di sandang oleh Yogyakarta. Hal ini terlihat dari banyaknya universitas yang tersedia di kota ini.  Dengan banyaknya berdiri universitas di kota ini dangan sendirinya juga akan melimpahnya mahasiswa dari berbagai penjuru Nusantara yang datang untuk menempuh pendidikan di kota ini. Yogyakarta juga pantas  dibilang sebagai “miniatur Indonesia” karena  tedapat bayak suku-suku bangsa  di Yogyakarta yang diwakili oleh mahasiswa-mahasiswi sebagai putra-putri daerah dari propinsi-propinsi, dan secara alamiah mereka yang beragam ini akan bersosialisasi (adaptasi), itulah kenapa dalam wacana akademis Yogyakarta di anggap  sampel Indonesia, “miniatur Indonesia”.

         Awal mula pemuda Indonesia tertarik-melirik kota Yogyakarta sebagai tempat untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi di sebabkan pada tahun 1946-1949, selama lebih kurang 4 tahun Yogyakarta pernah menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia. Yogyakarta pun memikat kedatangan para pemuda dari seluruh penjuru tanah air. Mereka ingin dapat berpartisipasi dalam pembangunan negara yang baru saja merdeka. Dan oleh karena itu, Pemerintah RI pada saat itu kemudian mendirikan Universitas Gadjah Mada, Universitas berstatus negeri yang pertama di Negara ini (Indonesia).

         Setelah berdirinya Universitas Negeri pertama UGM, kemudian disusul oleh berdirinya universitas negeri lain yaitu, Institut Agama Islam Negeri IAIN Sunan Kalijaga, (tanggal 21 juni 2004 yang sekarang berganti nama menjadi UIN Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,)[14],  Universitas Negeri Yogyakata UNY, Institut Seni Indonesia Yogyakarta ISI, (Sekolah Tinggi Pertahanan Nasional, STPN), dan (ATK, Akademi teknik Kulit). Total perguruan tinggi negeri di Yogyakarya yaitu ada enam.

         Adapun kemunculan Universitas-universitas swasta dimulai dari berdirinya sebuah universitas yang bernama, Universitas Islam Indonesia (UII), (Universitas swasta tertua di Indonesia), kemudian disusul oleh berbagai universitas lain yang handal di bidangnya masing-masing seperti UPN “Veteran”, AMIKOM, STMIK AKAKOM, Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD), STIE SBI, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY), INSTIPER (Institut Pertanian), dan masih banyak universitas-universitas yang lainya yang bisa di jumpai di kota pendididkan ini.

Menurut rekapitulasi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V. Daerah Istimewa Yogyakarta, pada bulan Juli 2006 telah terdaftar 119 Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta, yang terdiri atas 530 program studi, dengan rincian: 18 Universitas dengan 252 program studi, 4 Institut dengan 27 program studi, 34 Sekolah Tinggi dengan 116 program studi, 56 Akademi dengan 84 program studi dan 7 Politeknik dengan 51 progam studi. Sebagian program studi tersebut, izin penyelenggaraanya telah hasis berlakunya sehingga perlu di perbaharui.[15]

Dari gedung-gedung Akademis inilah ribuan mahasiswa penjuru Nusantara mengantungkan nasipnya untuk masa depan. selain bergelut dengan dunia kampus mahasiswa juga tidak bisa mengelak dari realitas yang ril yaitu apa yang disebut dengan “ere Globalisasi”. artinya semua kebutuhan dengan cepat sangat didukung oleh kemajuan teknologi  zaman sekarang. Inilah faktor utama terjadi tranper budaya modern bertipe Barat. Kemudian Gaya hidupun (life-style) pelan-pelan  terjadi penyesuian di kalangan mahasiswa yang ber-orientasi pada acuan trend global. Termasuk di dalamnya trend Kecanduan berbelanja di Matahari Departement Store, Hero Supermarket, mengandrumi makanan (KFC) Kentucky Fried Chicken, Mc Donald, Trend pergi ke kafe, tempat diskotik (hiburan malam di iringi musik yang di pawang-ngi oleh DJ (Disk Djokey ).

         Seluk-beluk yang berhubungan dengan kehidupan mahasiswa adalah dinamika yang dilakoni oleh mahasiswa, dan dinamika itu sangat beragam bentuknya. Entah itu yang ada hubungan dengan akademis dan tidak berhubungan dengan akademis. Yang pasti mahasiswa Yogyakarta telah banyak meyumbang untuk kemajuan bangsa Indonesia dan banyak melahirkan tokoh-tokoh dari universitas handal yang ada di kota ini. Oleh sebab itu, dengan sekian alasan di atas gelar kota pendidikan pantas di terima Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta (Kotamadya)

Ibu Kota Yogyakarta yang terletak di tengah-tengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbatasan dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, yakni: sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Sleman, sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Sleman dan Bantul, ketimur lagi kab.Gunung Kidul, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Bantul, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Bantul dan Sleman. Secara Administratif Kotamadya Yogyakarta sendiri terpilah dalam 14 Kecamatan. Berikut ini adalah Data Adminitratif Kota Yogyakrta (kotamadya). Luas Wilayah 32,8 km², Penduduk 511.744 jiwa (data 2004), Suku Jawa Dan Hampir Semua Suku Indonesia ada, Bahasa Indonesia dan Jawa, Agama Islam, Kristen, Budha dan Hindu.[16]

Kota Yogyakarta yang terletak pada ketinggian 114,0 meter di atas permukaan laut. Suhu udara kota tersebut sekitar 29-33 Co di waktu siang dan sekitar 24-26 Co di waktu malam hari. Adapun luas wilayah kota Yogyakarta adalah 32,50 km² atau sekitar 1,02 % dari luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang luasnya 3.185.80 km.[17]

 

Kehidupan Sosial Masyarakat

Kehidupan sosial masyarakat Kota Yogyakarta sekarang ini sudah bercampurbaur menjadi satu antara pribumi dan masyarakat pendatang, antara tradisional dengan modern, antara desa dengan kota, antara kaya dan miskin. nyaris kabur perbedaan antara dua kelompok tersebut. Cuma pada status-status tertentu masih terlihat membedakan antara yang atas dan yang bawah, Biasanya dijumpai di masyarakat kepegawaian yang ada struktur dan yang “berdarah biru” atau berhubungan dengan kraton.

Jika ingin dilihat perbedaanya antara orang asli Yogyakarta dan bukan, bisa di lihat dari pengunaan bahasa Indonesia yang khas Yogyakarta (bahasa Indonesia dialek Jawa). Namun generasi muda kota yang asli Yogyakarta kini cenderung sudah meniggalkan dialek khas itu, dan banyak juga yang di temukan ramaja kota yang tergolong “anak gaul” tetap mempertahankan bahasa Jawa sebagai bahasa yang lebih gaul dari bahasa lain. Jika ingin melihat masyarakat tradisoanal maka lokasinya berada di pingiran kota atau lebih banyak masyarakat tradisonal berada di daerah desa-desa kabupaten. Kota Yogyakarta sekarang ini lebih di dominasi oleh hal-hal yang berbau modern, (seperti fenomena keberadaan pusat pembelanjaan modern Matahari Mall, Ramayana Mall, Jogja Elektronik, Galeria Mall, Diamon Shapir, Ambarukmo Plaza, Hero Supermarket, KFC Kentucky Fried Chicken, Mc Donald).

Dengan melihat adanya pusat perbelajaan yang bertipe modern bisa di pastikan bahwa kaum pemodal Kapitalis di Yogyakarta sedang memainkan perannya dengan melihat pasar yang sangat mendukung. Sisi unik dari fenomena ini adalah pasar tradisional bertahan juga yaitu pasar Bringharjo sebelah timur Malioboro yang berdiri megah berlantai tiga, dan masih banyak pasar tradisional yang lain seperti pasar tradisional Gejayan juga menjadi andalan masyarakat Yogyakarta.

Perubahan yang terjadi di kota Yogyakarta  karena akibat dari kosekuensi  ragam julukan yang di sandang Yogyakarta itu sendiri dengan berbagai predikatnya. Misalnya, Yogyakarta Kota pendidikan (dengan ratusan universitas), maka ribuan calon mahasiswa memadati kota ini. Yoyakarta Kota Pariwisata, maka ribuan pelancong tiap tahun mampir ke kota ini (perputaran ekonomi meningkat), demikian juga dengan kosekuensi adanya julukan lain yang disandang oleh Yogyakarta. Namun yang menarik dari Yogyakarta dan membedakan dengan propinsi lain adalah semakin kuatnya arus dan trend Globalisasi, tidak terkikisnya budaya original-nya walaupun di sekitar masyarakat terdapat bayak budaya luar atau budaya asing bahkan budaya Barat-pun tidak bermasalah keberadaanya di kota ini.

Seiring dengan semakin beragamnya individu-individu yang ada di kota,  maka akomodatif suatu kota dari hari-kehari terus mengalami peningkatan. Fasilitas kenyamanan publik terus dalam proses pembenahan diri (seperti adanya TransJogja), muncul yang baru Hospital International jln.Ringrod Utara. Ciri dari masyarakat kota adalah kebutuhan masyarakat kota semakin beragam, dan kebutuhan terhadap aneka ragam masyarakat kota telah membuat Yogyakarta termasuk ke dalam sasaran pasar, (taget si-pemodal) hal ini tidak bisa dielakan. Sehingga pelan-pelan dua kelompok masyarakat kota (contoh diatas) secara umum (dominan) terbawa dengan arus konsumerisme dan konsumtif yang berpotensi besar.

Saat ini Yogyakarta khususnya di wilayah perkotaan terdapat berbagai etnis penduduk dari seluruh Indonesia, walau penduduk asli masih berada dalam komposisi teratas dan masih dominan dalam berbagai peran kemasyarakatan. Penduduk pendatang dari berbagai suku ini membentuk semacam “miniatur culturnya Indonesia” di Yogyakarta. Mereka datang ke Yogyakarta dengan berbagai kepentingan. Bidang pendidikan menjadi tujuan utama para pendatang ke Yogyakarta, menyusul pekerjaan, perdagangan dan bidang-bidang lain termasuk sektor informal. Para pendatang ini sebagaian besar merupakan penduduk musiman di Yogyakarta, seperti mahasiswa, buruh kerja, dan perantau lainya.  Secara administratif, banyak diantara mereka yang tidak terdata. Sehingga bisa dipahami bahwa secara definitif problem jumlah penduduk jauh lebih besar dari yang tertuang dalam catatan statistik yang ada.

Relativitas tinggal para pendatang kadang menjadi alasan tidak perlunya mengikuti ketentuan-ketentuan administratif yang ada. Mereka silih berganti datang dan pergi sepanjang tahun, mereka secara estafet berada di Yogyakarta. Kini ribuan pendatang itu bercampur baur dengan penduduk pribumi dengan jumlah total l4.3640.000 (+/-) tahun (2008), di kotamadya 511.744 jiwa tahun (2004) kepadatan kotamadya 15.601,2/km².


[1] BacaSoedarisman Poerwokoesoema, Sejarah Lahirnya Kota Yogyakarta (Yogyakarta: Lembaga Javanologi, 1986), hlm. 24.

[2] VOC (Vereenigde Oostindieche Compagnie) Adalah: perusahaan Hindia Timur, Jan Pieterszoon Coen adalah pendiri kerajaan Hidia Belanda Raya di Hindia Timur. Baca D.G.E Sejarah Asia Tenggara (Surabaya: Usaha Nasional 1988), hlm 252, 273.

                [3] Mila Budi Utami,  Gaya hidup dugem di kalangan mahasiswa Di yogyakarta. (studi kasus tentang ekspresi gaya hidup dan keberagamaan Mahasiswa pelaku dugem di yogyakarta), UIN Sunan kalijaga Yoyakarta 2007, hlm 26.

[4] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press UGM), September 1998, hlm 161

[5] Ibid, hlm 167, untuk lebih lengkap tentang perang VOC dan sejarah terbentuknya kota Yogyakarta baca M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, dari hlm 104-200.

[6] Ibid,

[7] Pada tahun permulaan 1946 sampai dengan 1949, kurang lebih 4 tahun, propinsi Yogyakarta pernah menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia. Pada waktu itu para tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia berkumpul di kota perjuangan ini. Seperti layaknya sebuah ibukota suatu Negara dan Yogyakartapun memikat kedatangan kaum remaja dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka pada dasarnya ingin dapat berpartisipasi dalam pembangunan negara yang baru saja merdeka ini. Namun untuk dapat membangun suatu Negara yang baru lahir dengan baik diperlukan orang-orang ahli, terdidik dan terlatih. oleh karenanya, Pemerintah RI kemudian mendirikan Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas negeri pertama. Selanjutnya diikuti pula dengan pendirian akademi dibidang kesenian (Akademi Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indonesia), serta sekolah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, IAIN (institut agama islam negeri) Sunan Kalijaga. Pada waktu-waktu selanjutnya, berbagai jenis lembaga pendidikan negeri maupun swasta bermunculan di Yogyakarta. Hal ini yang menjadikan Yogyakarta tumbuh sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan.

[8] Situs (web) resmi Pemda: www.pemda-diy.go.id dan E-mail: bid@pemda-diy.go.id (sabtu tanggal 10 Mei 2008, Jam 10:24 WIB).

[9] Data Di peroleh pada hari sabtu tanggal 10 Mei 2008

[10] Pada tahun 1939 Saka atau bertepatan dengan tahun 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali, menggelar kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama tujuh hari menjelang tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw. Agar menarik perhatian rakyat jawa, dibunyikanlah dua gamelan buah karya Sunan Giri dan membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama karya Sunan Kalijaga. Pada saat yang bersamaan kegiatan tersebut, masyarakat tertarik ingin memeluk Islam (peng-islamisasi), dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat atau syahadatain Dari kata syahadatain inilah kemudian lahir istilah sekaten (ejaan jawa) akibat perubahan pengucapan tersebut, dengan sendirinya istilah sekaten menjadi populer di kalangan masayarakat jawa

[11] Pasar Beringharjo direnovasi menjadi sebuah bangunan megah bertingkat tiga di akhir tahun 1990. upaya ini di lakukan untuk penyesuaian zaman agar tidak ditinggalkan pengunjungnya pasar tradisional terbesar ini di Yogyakarta

[12] Arti Lesehan adalah sajian makanan di gelar di atas tikar yang di makan tampa korsi duduk

[13] Data imformasi tempat wisata di peroleh dari hasil obserfasi (refresing) selama menempuh kuliah S1 dan di peroleh dari situs Internet.

[14] Perubahan Institut Agama Islam Negeri menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga berdasarkan Kepres No. 50 tahun 2004 tanggal 21 Juni 2004 di bawah pimpinan Prof. H.M. Amin Abdullah sebagai Rektor UIN. Kini UIN Sunan Kalijaga telah mempunyai tujuh fakulltas yaitu: fakultas Ushuluddin, fakultas Tarbiyah, fakultas Syariah, fakultas Dakwah,  fakultas Adab, fakultas Sains Teknologi, fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Selain penambahan fakultas, terlihat juga adanya pembangunan sarana fisik yang lain dan fasilitas-fasilitas kampus seperti perpustakaan baru, poliklinik, Student Center (kantor UKM-UKM Unit Kegiatan Mahasiswa di satu gedung) yang dapat mendukung kenyamanan mahasiswa dalam mengembangkan kreativitasnya.

[15] Ibid, Mila Budi Utami, Daftar Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Kopertis Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Juli 2006, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, hlm. 1

 [16] Data Di peroleh pada hari sabtu tanggal 10 Mei 2008.

[17] Ibid, hlm 29.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s