Jejak Islam di Nusantara

Oleh: Nofal Liata

Di Indonesia, Islam pada awalnya di bawa oleh kaum saudagar. Mereka pada umunya ketika masih pertama sekali tidak menetap, tetapih mereka pulang pergi antara negerinya dan negeri yang di singgahinya. Para saudagar ini bukanlah orang-orang  yang ahli agama, tetapi setelah rakyat sudah memeluk agama Islam, maka baru kemudian para guru-guru agama datang ke Nusantara, baik atas kemauan sendiri atau karena di ajak oleh para saudagar untuk mengembangkan agama Islam.

Pada tahun 132 H, Kerajaan Bani Umayah yang berpusat di Damaskus kemudian digantikan oleh kerajaan Bani Abbas yang perpusat di Bagdad, yang kemudian ikut juga membawa pengungsi-pengungsi Arab mengembara ke belahan Timur dan ke kawasan Barat. Kerajaan Abbasiyah yang di dukung oleh Persia, berdiri dan berkembang sedemikian cepatnya. Sedangkan keluarga Bani Umaiyah yang telah mengalami kehilangan kekuasaannya itu menyingkir ke luar negeri. Ada yang ke jurusan Barat seperti Amir Abdurahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, demikian pula ke jurusan Timur mereka tersebar kesepanjang jalan dari Arabia ke Irak, Afganistan, india, dan sekitarnya. Setelah agama Islam berkembang di negeri-negeri tersebut dan melahirkan Ulama-ulama, lalu kemudian bersama-sama orang Arab asli mereka mengembangkan Islam ke benua Timur hingga sampai ke tanah air Nusantara. Kedatangan para ulama-ulama itu semakin memperkuat eksistensi Islam dan mazhab yang sangat menonjol adalah Syafi’i. Mazhab Hanafi lebih berkembang di India atau mazhab Syi’ah di Persia.

Pengaruh mazhab Syafi’i sampai sekarang di Indonesia sangat kental, walaupun mazhab yang lain juga turut mewarnai. Hal ini terjadi di sebabkan karena mazhab Safi’ilah yang sangat kuat dianut di Makkah yang kemudian mengalir ke Nyaman, terus ke Hadramaut, singgah di Malabar dan langsung ke Nusantara di Pasai. Kedatangan Islam dari Mekkah ke Nusantara yang berlambangkan dari Syech Ismail, utusan syarif dari Mekkah yang singgah di Malabar mengambil seorang guru keturunan Abubakar Ashsidiq untuk di bawa ke Aceh.[1] Di daerah Aceh inilah kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Daya di Aceh Besar, Kerajaan Pasai Aceh Utara, Kerajaan Pereulak Aceh Timur, dan kerajaan Pidie di Aceh Pidie.

Dalam perkembangannya, di Kerajaan Samudera Pasai inilah digodok tenaga-tenaga ahli agama Islam untuk melakukan penyiaran agama ke daerah luar Aceh, dan tidak hanya itu para kader-kader pejuang Islam ini juga mempelajari dalam bidang peperangan dan pertahanan, dan bidang-bidang lain. Mulanya agama Islam tersebar hanya di bahagian pesisir kota saja yang mudah dilalui oleh Muballiq-muballiq Islam. Waktu itu di bagian pedalaman masyarakatnya masih dalam pengaruh kepercayaan serba roh, (dinamisme-animisme) yang merupakan latar belakang dari kepercayaan Hindu. Bagi sebahagian kecil orang-orang pesisir yang masih belum mau menganut agama Islam mereka pindah ke pedalaman. Demikianlah sikap masyarakat sebahagian yang tidak mau masuk Islam lalu mereka memilih untuk mengungsi jauh kepedalaman.

Dari kerajaan Samudera Pasai ini kemudian Islam berkembang ke tiga jalur jurusan. Tiga jalur jurusan penyebaran tersebut bisa kita lihat, pertama ke arah Pidie, Aceh besar, Daya, Trumon, Barus, Pariaman, dan sekitarnya sepanjang pesisir selatan pulau Sumatra. Keduan ke arah Malaka dan pulau-pulau sekelilingnya, ketika Islam sudah masuk ke Malaka kemudian perkembangannya terus-menerus berlanjut  ke daerah-daerah Melayu yang lainya, terutama setelah berdiri kerajaan Malaka. ketiga ke arah pesisir utara pulau Sumatra dan ke pulau Jawa. di pulau Jawa sendiri penyebaran Islamnya di pimpin oleh Maulana Malik Ibrahim dan kawan-kawannya yang merupakan sebuah dewan utusan dari kerajaan Pasai, yang kemudian di kenal sebagai para wali atau Walisongo oleh masyarakat Jawa. Dan dua orang penyiar Islam yang terkenal dalam sejarah Jawa yaitu Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoro adalah putera-putera dari Sultan Pasai.[2] Kemudian oleh ulama-ulama Pasai, di undanglah orang-orang Jawa Timur yang telah memeluk agama Islam untuk berkunjung ke negeri Pasai.

Ketika Pasai mengalami kemerosotan dan tekanan dari musuh, para Muballiq-muballiq Islam dari Pasai pergi ke Malaka untuk mengembangkan agama Islam pada tahun 1416 M, kemudian raja Malaka-pun memeluk agama Islam. Raja Islam yang pertama itu bernama Paramisora yang kemudian bergelar Iskandar Syah. Lalu ia kawin dengan putri Pasai pada tahun 1324 M. Pada tahun 1450 M, raja-raja Malaka kemudian melakukan peluasan pengaruh kekuasaanya ke semenanjung dan Sumatra  tengah, yaitu ke daerah Kampar, Indragiri, dan Rokan. Di kawasan negeri-negeri yang di bawah pengaruh Malaka agama Islam senantiasa berkembang, hal ini terjadi karena letak Malaka yang baik untuk daerah perniagaan. Dengan demikian, maka ramailah dikunjungin pedagang-pedagang dari Asia Barat dan Timur. Malaka-pun kemudian menjadi tempat pusat perkembangan agama Islam. Saudagar-saudagar yang datang ke Malaka dari Jawa, Kalimantan, Sumatra, yang tinggal di Malaka kemudian memeluk agama Islam. Pada tahun 1511 M,  Malaka jatuh ketangan Portugis. Waktu itu yang memerintah Malaka adalah Sultan Mahmud Syah. Banyak penduduk Malaka yang menyingkir ke bandar lain ke pulau Jawa, Makasar dan Aceh, karena mereka tidak suka di bawah kekuasan bangsa asing. Hal ini menyebabkan ramainya di bandar-bandar Banten, Jepara, Tuban, Demak dan Gresik, maka semakin ramailah Islam di daerah-derah tersebut. Dalam hal kegemilangan kerajaan Malaka tidaklah begitu lama, lebih kuranng selama 100 tahun. Namun dalam masa itu sangatlah besar artinya dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Islam. Dalam periode kejatuhan kerajaaan Malaka, di Aceh mengalami kejayaannya lagi yaitu yang berpusat di Banda Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Raja Ali Mughayat Syah.

Sebelum Islam masuk kepedalaman Minangkabau, Kerajaan Pasai telah menyiarkan Islam di pesisir Minangkabau, hal ini terjadi sudah lama sebelum kekuasaan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kemudian dalam sejarah penyiaran Islam di Suluh dan Mindanao (Pilipina) tersebutlah bahwa, Raja Bagindo seorang bangsawan Minangkanbau telah datang ke Sulu dan Mindanao sekitar tahun 1390 M. Kemudian dalam literatur sejarah Islam di Minangkabau, maka terkenalah seorang ulama besar bagi masyarakat daerah tersebut. Beliau bernama Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1704 ). Syekh Burhanuddin adalah salah seorang murid dari Syekh Abdur Rauf al-Singkili,[3] ia menuju ke Aceh pada saat itu masih berumur 15 tahun dan masa belajar di Aceh selama 10 tahun. Setelah ia selesai belajar agama di Aceh, Syekh Burhanuddin membawa ajaran Tharikat Syattariyah ke Ulakan pada bagian kedua abad ke-17. Dari Ulakan ajaran tarikat itu menyebar melalui jalur perdagangan di Minangkabau sampai ke Kapeh-kapeh dan Pamansiangan, kemudian ke Koto Laweh, Koto Tuo,  dan ke Ampek Angkek. Di sebelah barat Koto Tuo berdiri surau-surau tarikat yang banyak menghasilkan ulama. Penulis ternama Indonesia seperti Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam (1961), mengupas peranan ulama Syekh Burhanuddin sebagai pengembang agama Islam yang berpusat di Ulakan. Menurut beberapa cendikiawan bahwa, Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama dan pengembang agama Islam di Minangkabau dilahirkan di Guguk Sikaladi Pariangan Padang Panjang dengan nama kecil Pono. Menurut keterangan Mahmud Yunus, Pono lahir pada tahun 1066 H atau tahun 1641 M di Sintuk, Lubuk Alung. Sedangkan menurut Ismail Jakup, Syekh Burhanuddin berasal dari Pidie Aceh dan ia adalah murid Syekh Abdurrauf Al-fansury.[4] Dan sekembalinya dari Aceh ia kemudian mendirikan surau di Tanjung Medan dan surau-surau lainnya di Ulakan. Syekh Burhanuddin meninggal dunia pada hari Rabu 10 Syafar tahun 1116 H atau 1704 M di Ulakan. Murid-murid yang diasuhnya kemudian menyebar di seluruh pelosok Minangkabau yang mendirikankan surau-surau sebagai pusat studi yang melahirkan cendekiawan, yang kemudian melanjutkan perjuangan ke pedalaman Minangkabau. Kegiatan dakwahnya di perkirakan berlangsung selama 20 tahun.

Di bagian Sumatra Utara, di antara penduduk tanah Karo (Medan) ada yang berasal dari pesisir Aceh. tepatnya bahagian Dairi dan Sindikalang, ada golongan penduduk yang bermarga “Pasi”. Menurut mereka nenek moyangnya berasal dari Pasai Aceh. Penyebaran agama Islam ke Tapanuli juga bersumber dari Aceh. Ke daerah Mandailing Islam Masuk dari jurusan Minangkabau. Di Tapanuli Utara (Tanah Batak) adalah daerah yang sukar untuk jalur perhubungan dan letaknya yang jauh di pedalaman sangatlah sulit dicapai oleh Muballiq-muballiq Islam pada saat itu. Oleh sebab itu, masyarakat di sana pada saat itu tetap beragama Pelbegu (memuja arwah dan hantu). Keadaan yang seperti ini kemudian tidak di sia-siakan oleh penjajah Belanda, kekosongan agama Islam di sana dipakai maksimal oleh pihak Misionaris Belanda setelah mereka berhasil menguasai wilayah tersebut, kemudian mereka mengkristenkan masyarakat setempat. Upaya pengkristenan di Tapanuli oleh Belanda tenyata tidak semata-mata bermaksut memperkenalkan Tuhan Yesus semata, di balik itu juga Belanda mempunyai kepentingan menghalangi hubungan antara Minangkabau yang mayoritas muslim, dengan daerah Aceh yang merupakan basis kekuatan Islam.

Islam di Bangkahulu tidak terlepas juga dari pengaruh perkembangan dari Pasai. Penduduk bahagian pantai Bangkahulu antara lain terdiri dari pengungsi-pengungsi dari Minangkabau dan Aceh yang telah menganut Islam. Dari bagian pantai ini Islam kemudian berkembang ke pedalaman.[5] Sedangkan Islam di Kalimantan penyebaranya di lakukan oleh, pertama melalui pedagang-pedagang yang menyiarkan dari Malaka, setelah Malaka jatuh ketangan Portugis. Akhirnya berdirilah suatu kerajaan Islam, yaitu kerajaan Brunai yang terletak di bagian utara pulau Kalimantan di pesisir sebelah barat. Kedua melalui jasa Muballiq-muballiq Islam yang dikirim kerajaan Islam Demak di pantai utara pulau Jawa. Mereka kebanyakan melancarkan usahanya di sebahagian selatan pantai Kalimantan yaitu di Banjarmasin dan sekitarnya, yang kemudian berdirilah Kerajaan Banjar. Barjarmasin dan sekitarnya di bagian Kalimantan Selatan menerima agama Islam dari kerajaan Demak.  Agama Islam masuk ke Kerajaan Sukadana pada tahun 1550 M, dan kerajaan tersebut yang terletak di sebelah barat daya palau Kalimantan. Islam di situ atas upaya dari Muballiq-muballiq dari Palembang, Malaka, dan Jawa. Dari kerajaan-kerajaan itu, tersiarlah Islam keseluruh pantai Kalimantan yang luas itu. Dalam penyiaran Islam di Banjar, maka terkenallah seorang tokoh ulama besar yang bernama Syech Muhammad Arsyad Banjar. Ia adalah seorang anak kampung putera dari Abdullah, lahir pada 15 Safar 1122 H (1710 M), di desa Lok Gebang, Martapura Banjarmasin.

Setelah Islam telah menyebar di sepanjang Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Muballiq-muballiq dari pulau ini kemudian meneruskan pengembaraan ke Sulawesi. Ketika orang Portugis datang ke Sulawesi tahun 1540 M. Penduduk yang memeluk Islam masih sedikit, tetapih sejak abad ke 17 Islam berkembang pesat sehingga berdiri kerajaan Makasar dan kerajaan Bugis. Kerajaan Makasar ibu kotanya adala Goa, raja yang pertama yang masuk Islam adalah Sultan Alaidin Awwalul Islam, beserta wazirnya Karaeng Matopa pada tahun 1603 M. Kemudian yang di ikuti oleh pembesar-pembesar dan rakyatnya. Muballiq-muballiq Makasar kemudian meneruskan dakwahnya ke Kerajaan Bugis. Berkat keuletan Muballiq Islam jadilah masyarakat Bugis penganut Islam yang baik. Pelaut-pelaut Bugis terkenal pemberani, mereka berlayar menjelajah ke seluruh bumi Nusantara, hingga mereka sampai ke Aceh. Seorang pelaut bernama Daeng Mansur sesampainya di Aceh digelari Tengku di Bugis.[6] Karena Muballiq-muballiq Islam Aceh banyak yang pulang pergi ke Bugis, menyebabkan erat rasa persaudaraan keagamaan yang mengokohkan antara dua hubungan daerah ini. Jika diamati lebih jauh lagi, bentuk perumahan dan cara hidup orang Bugis hampir mirip dengan di Aceh. sehingga jika ada orang Aceh yang datang ke Bugis tidak merasa canggung sama sekali, demikian pula sebaliknya.

Islam di Maluku adalah dari upaya Muballiq-muablliq dari berbagai daerah dan saudagar bangsa Asing. Hal ini terjadi karena di Maluku merupakan salah satu daerah yang memiliki kaya akan rempah-rempah. Kemudian lahirlah kerajaan-kerajaan Islam di Maluku di antaranya, pertama Kerajaan Ternate yang rajanya bernama Bayan Ullah, Islam masuk ke Ternate pada abad 15 (tahun 1440). kedua Kerajaan Tidore, Raja Tidore pertama masuk Islam Cirali Lijitu, kemudian berganti namanya dengan nama Sultan Jamaluddin. Ketiga kerajaan Bacan, raja pertamanya adalah Zainulabidin yang memeluk Islam pada tahun 1521. Keempat Kerajaan Jailolo, yang berdiri sejak tahun 1521 M.

Islam di Nusa Tenggara kepulauan Sumbawa dan sekitarnya masuk pada pertengahan abad 16. Di pinggir kota Bima terdapat makam penyiar Islam yang datang dari Makasar, dan Sultan Bima adalah raja yang pertama memeluk Islam. Kemudian Islam di Lombok atas usaha Muballiq-muballiq dari Bugis dan Jawa. orang-orang Bugis datang ke Lombok pada saat itu melalui Sumbawa, namun adapula yang datang langsung dari Bugis, dan kepulauan Lombok adalah tempat perantauan orang Bugis. Peduduk Lombok terdiri dari dua golongan, yaitu  golongan orang Sasak yang merupakan penduduk asli dan beragama Islam, dan golongan orang Bali yang datang dari Bali beragama Hindu. Untuk bagian pulau Papua, Islam masuk atas upaya Muballiq-muballiq dari kerajaan Bacan dan kerajaan Islam dari Maluku. Pengaruh Sultan Bacan di ataranya kepada kepala Suku-suku, tetapi hanyalah penduduk tepi pantai saja. Sedangkan peduduk yang lainya khususnya pedalaman menganut kepercayaan serba roh (animisme-dinamisme).

Pertumbuhan dan perkembangan Islam di Nusantara menyebabkan terbangunya beberapa kerajaan Islam. Di lain sisi, karena bumi Nusantara kaya-raya dengan hasil buminya, maka datang pulalah Bangsa Eropa. Maksut kedatangannya semula dari bangsa Barat adalah henda berniaga di samping juga hendang mengembangkan agama Kristen, sebagai alat menanamkan pengaruh dan kekuasaannya. Namun pada kenyataannya mereka melakukan tekanan dan paksaan, sehinggan penduduk di bumi Nusantara menjadi jajahan mereka Bangsa Barat selama tiga setengah abad lamanya.

Bibliografi:

Anwar,  Rosihan,  Kerajaan Islam Samudra Pasai , Harian Kedaulatan Rakyat, (Yogyakarta: 15 Maret 1988)

Arifin, Abdul Hadi, Malikussaleh Reinterpretasi Penyebaran Islam Nusantara, (Lhokseumawe: Unimal Press, 2005)

Azra,  Ayzumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauwan Nusantara Abad 17 Dan Abad Ke 18, (Bandung: Mizan, 1994).

Jakup, Ismail, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta: Widjaya)


[1] Ismail Jakub,  Sejarah Islam Indonesia, (Jakarta: Widjaya), hlm 17.

[2] Ibid, hlm 21.

[3] Syek Abdur Rauf al Singkli adalah seorang mufti pada Kerajaan Islam Aceh. Ia juga di kenal dengan nama lain yaitu Teungku Syiah Kuala, lahir di Singkil (Aceh) di perkirakan tahun 1615 M. Ayahnya juga adalah seorang ulama yang memiliki lembaga pendidikan (dayah). Selain belajar di dalam negeri pada beberapa ulama besar, ia juga belajar ilmu agama Islam di Timur tengah, meliputi  Dhuha (Doha), Qatar, Yaman, Jeddah, dan terakhir di Mekkah dan Madinan selama19 tahun. Untuk lebih lengkap menganai Abdur Rauf al Singkli, Lihat;  Hasbi Amiruddin, Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik, (Yogyakarta: Ceninnets, 2004), hlm 29-31.

[4] Ismail Jakub, Ibid, hlm 61.

[5] Ismail Jakub, Ibid, hlm 37.

[6] Ismail Jakub, Ibid, hlm 43.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s