Akidah dan Ibadah AHMADIYAH

Oleh: Nofal liata 

Pendiri Ahmadiyah_Mirza Ghulam Ahmad bersama sahabatnyaSebelum memasuki pada substansi bahasan, terlebih dahulu penulis disini akan mencoba kaji ulang kembali pemahaman yang telah di ketahui secara umum mengenai makna dari akidah itu sendiri. Memang defenisi akidah untuk hampir semua kalangan umat muslimin sudah mengetahuinya, namun ada juga yang tidak mengetahuinya secara tepat makna kata akidah tetapi ia telah berdiri di akidah yang benar. Oleh sebab itu, tak cukup hanya mengetahui namun tidak memahami apa sebenarnya akidah itu. Secara etimologi (penyelidikan mengenai asal-usul kata) akidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti mengikat. Dengan demikian bisa di mengerti bahwa hatinya seseorang individu jika ia telah memiliki akidah maka ia telah mengikat hatinya pada kepercayaan tertentu, misalnya mengikat hatinya pada agama Islam. Akidah adalah apa yang telah diyakini oleh seseorang dan oleh suatu kelompok masyarakat. Dengan kata lain apa bila seseorang mempunyai akidah yang benar berarti akidahnya bebas dari keraguan. Maksut keraguan disini adalah ia tidak sanggup di pengaruhi oleh akidah yang baru yang datang kemudian kepadanya. Jadi sangat jelas bahwa akidah itu merupakan perbuatan hati yaitu kepercayaan yang sangat fundamental atas pembenarannya terhadap kepercayaan pada sesuatu agama dan aliran yang di anutnya dan diyakininya. Dalam kepercayaan agama Islam, akidah secara Syara berwujut yaitu iman (percaya atau yakin)  kepada Tuhan Allah SWT, kepada malaikatNYA, kitab-kitabNYA, kepada Rasul NYA, kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal tersebut lazimnya di sebut sebagai rukun iman. Sedangkan makna dari kata ibadah adalah segala sesuatu kebaktian dan ketundukan kepada Tuhan.

            Untuk melihat bagaimana jamaah Ahmadiyah  dalam hal akidah dan ibdahnya, maka penjelasan di atas bisa mengantarkan dan mendampingi kita untuk memahami lebih dalam lagi bahasan yang keberikutnya di bawah ini. Namun sebulum masuk pada bahasan pokoknya tak ada salahnya jika kita akan melihat terlebih dahulu mengenai latar belakang dan sejarahnya Ahamadiyah yang bisa mewarnai kehidupan umat muslimin. Di negeri yang sangat dominan agama Hindu dan Budha yaitu di India pada tahun 15 februari 1835 M, lahirlah seorang pria yang di panggil dengan sebutan akrap Mirza, ia bernama lengkap adalah Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian pada tanggal 26 mei 1906 M ia menghembuskan nafas terakhirnya di negeri kelahirannya. Konon, ia di kabarkan seorang yang suka beribadah, namun tidak pasti seperti apa ibadahnya itu dan tidak ada keterangan pasti seperti apa orientasi ibandahnya itu. Dari nama belakangnya inilah yaitu kata “ahmad” kemudian di interprestasikan bahwa yang di maksud dalam kalimat Syahadat “muhammad rasullulah”, oleh jamaah fanatik Mirza kemudian menyatakan bahwa yang di maksut kalimat itu adalah Mirza Ghulam Ahmad. Disinilah babak awal dari akidah jamaah Ahmadiyah telah memilih jalan yang berbeda dengan apa yang telah di cantukan dalam Al’quran dan Hadist. Dalam kitab Alqur’an di jeskan bahwa tidak ada lagi Nabi sesudah Muhammad, namun untuk pemahaman jamaah Ahmadiyah setelah Nabi Muhammad akan ada terus menerus Nabi sepanjang abad hingga datangnya hari kiamat.

            Sejarah berliku-liku perjalanan jamaah Ahmadiyah akhirnya memasuki ke negara Indonesia, tepatnya pada tahun 1935. Kini pusat dari segala kegiatan jamaah Ahmadiyah di koordinasikan di Jawa Barat yaitu di daerah Parung Bogor. Dari daerah inilah kemudian perluasan jaringan mendapatkan hasil yang besar sehingga organisasi jamaah Ahmadiyah memiliki banyak cabang di setiap propinsi lain di Indonesia. Memasuki tahun 2002 organisasi jamaah Ahmadiyah telah memiliki cabang 200 buah di berbagai daerah. Dalam usaha memperkenalkan aliran Ahmadiyah,  oleh jamaahnya di setiap bulannya membagikan brosur darsus (edaran khusus) kepada masyarakat muslim lainya, kususnya kepada organisasi Islam dan di tempat yang mereka anggap sebagai sarana corong kelancaran dakwah mereka. Selain itu jamaah Ahmadiyah juga membagikan buku-buku yang berisikan ajaran Ahmadiyah secara gratis kepada masyarakat umum. Pemamfaatan kecanggihan teknologi juga menjadi penting disini, jamaah Ahmadiyah juga telah mengunakan internet untuk menyebarkan dakwahnya yang berpusat di Parung, Tasikmalaya, dan Garut Jawa Barat. Setiap ceramah yang di berikan oleh khalifah Ahmadiyah yang berada di London (Inggris) di siarkan langsung oleh internet mereka di tiga tempat tersebut, dan langsung di terjemahkan oleh intelek muda  kedalam bahasa Indonesia.

            Dalam pokok ajaran Mirza untuk jamaahnya, Mirza Ghulam Ahmad mejelaskan pada pengikutnya bahwa dirinya adalah seorang Nabi dari Agama Islam keberikutnya dan ia juga seorang rasul utusan Tuhan. Sebagai seorang Nabi, dalam melengkapi keNabiannya ia memberi keterangan pada pengikut setianya bahwa ia juga mendapatkan wahyu yang turunnya juga di India. Kemudian wahyu-wahyu itu di kumpulkan keseluruhannya kedalam sebuat kitab, yang bernama kitab Tadzkirah. Kedua, jamaah Ahmadiyah meyakini bahwa kitab suci Tadzkirah sama sucinya dengan sucinya kita Alqur’an, dengan alasan bahwa kedua-duanya sama turunya dari Tuhan. ketiga, bagi pemahaman jamaah Ahmadiyah mengenai wahyu akan turun sampai hari kiamat, demikian pula dengan Nabi dan Rasul. Keempat, jamaah Ahmadiyah memiliki tempat suci sendiri yaitu  di Qadian dan Rabwah, sekaligus dua tempat itu berfungsi sebagai surga. Kelima, wanita jamaah Ahmadiyah haran menikan dengan laki-laki bukan Ahmadiyah, namun laki-laki Ahmadiyah di bolehkan atau tidak haram menikah dengan bukan golongan Ahmadiyah. Keenam, jamaah Ahmadiyah tidak boleh bermakmum di belakang yang bukan dari golongan mereka. Ketujuh, Ahmadiyah memiliki tanggal dan bulan sendiri (bukan tahun Hijriah), dan nama tahun dalam ajaran Ahmadiyah adalah Hijri Syamsyi, disingkat dengan HS.

            Peristiwa yang sangat mengejutkan justru terjadi pada umat Islam di Indonesia yang di landa kebingungan sangat besar, di satu sisi oleh MUI Indonesia dan Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) di Makkah menyatakan bahwa untuk Ahmadiyah adalah sebuah organisasi aliran sesat dan mereka di luar Islam. Namun di Indonesia pada saat itu bulan Juni-Juli 2000 M, untuk jamaah Ahmadiyah di sambut dengan upacara penting oleh Dawam Rahardjo tokoh ICMI (ikatan cendikiawan muslim se-Indonesia), Amie Rais (ketua MPR), dan Gus Dur. Akumulasi dari reaksi dari tokoh-tokoh ini berimbas kepada pandangan media surat kabar elektronik dan cetak pada saat itu, yang mendeskripsikan isi pemberitaan demi human rights maka Ahmadiyah sama dengan aliran-aliran lain dan tidak perlu di khawatirkan. Secara substansi, sikap dua tokoh Amie Rais dan Gus Dur adalah mengambil pandangan demi kepentingan human rights maka Ahmadiyah di terima bukan tidak ada kepentingan dan keuntungan secara politis untuk keduanya. Sikap yang lunak di perlihatkan oleh dua tokoh tersebut berorientasi pada Pilpres tahun 2004, di mana kedua-duanya itu berencana juga untuk ikut dalam kompetisi pilpres. Logika dari komunikasi politik seperti ini adalah di pilpres nanti jamaah Ahmadiyah tidak akan memilih capres yang melakukan pressure pada mereka, justru mereka akan memberikan suaranya pada orang yang bisa melindungi mereka, karena mereka tidak ada kekuatan politik mengarahkan padangan kebijakan pemerintah. Pada kenyataannya semua ormas politik Islam bersebrangan tajam dengan Ahmadiyah, namun Gus Dur dan Amie Rais sangat paham betul di mana manfaat jamaah Ahmadiyah. Fakta lainpun menunjukan bahwa jamaah Ahmadiyah minoritas dari ormas-ormas Islam yang lain, dan mengantar kedua tokoh ini ke kursi no satu di Indonesia-pun gurgur dengan sendirinya, apalagi di tambah sebagian tokoh politik yang lainnya tidak suka kepada kedua tokoh ini karena telah telah mengunakan kesempatan dalam kesempitan. Isu dan serangan politik mengemas kepada kedua tokoh ini dan langkan menjadi orang nomor satupun terhenti bagi mereka berdua.

Era kepemerintahan kepresidenan Gus Dur adalah masa dimana berbagai macam aliran ormas dan lainnya bermuculan dengan subur,  hal ini terjadi karena presiden Gus Dur seorang intelektual muslim yang mengedepankan asas pluralis tampa filter. Selain itu, Aneka keragaman aliran organisasi yang berkembang di Indonesia pada saat itu juga akibat dari kosekwensi interpretasi reformasi yang tidak matang. Akibat nyatanya adalah masalah yang terjadi kemudian hari di dalam masyarakat harus di selesaikan sendiri oleh masyarakat dengan kesederhanaan llmu pengetahuan. Padahal dalam komponen masyarakat ada pemerintah yang harus bersinergi dengan rakyat sipil, dan pemerintah mempunyai kewajiban terhadap rakyatnya untuk memberikan yang terbaik. Jika fenomena seperti ini dibaikan maka Dampak kongkritnya adalah masyarakat di sediakan boom watuk, kemudian harus menyelesaikan sendiri. Dan pada banyak kasus yang terjadi di Indonesia cara penyelesaiaan masalah berbeda aliran ini cenderung bersikap ekstrimis, yang menimbulkan kerugian jiwa dan materi yang banyak. Ketika sudah masuk pada kemelut kejadian ekstrimis maka reaksi kemudianpun bermuculan dari berbagai masyarakat intelektual. Kemudian negara di pusingkan pada masalah-masalah itu yang tak kunjung mendapat penyelesaian dengan tepat. Pemerintahpun jika salah mengambil kebijakan, oleh rivalnya sudah siap mengakormodir isu untuk menjatuhkan karena ketidak sanggupan mengurus pemasalahan bangsa. Akhirnya isu Ahmadiyahpun memasuki keladam ring dunia politik yang sangat sarat dengan kepentingan untuk keuntungan politikus. Pada pemerintahan presiden Gus Dur juni tahun 2000, telah menghadirkan khalifah Ahmadiyah yang ke 4 bernama Tahir Ahmad (selaku Nabi palsu) dari London ke negara Indonesia. Oleh Dawam Raharjo, nabinya jamaah Ahmadiyah di antarkan ke Amie Rais untuk bersilaturahmi dan ke Gus Dur selaku Presiden RI.

            Sikap negara-negara Islam dan organisasi dunia pada umumnya sangat seragam mengenai padangan terhadap Ahmadiah. Seperti negara Malaysia sejak tanggal 18Juni 1975 yang melarang ajaran Ahmadiyah berkembang di negeri itu. Demikina pula dengan negara Brunai yang melarang juga ajaran Ahmadiyah. Sedangkan pemerintah Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan bagi mereka tidak di perkenankan untuk pergi haji ke Mekkah. Negara Pakistan mengeluarkan surat Ahmadiyah agama minoritas muslim. Rabithah Alam Islamy di Mekkah mengeluarkan fartwa bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan keluar dari Islam.

            Ada sebuat sekte yang sangat penting dalam Ahmadiyah, yaitu sekte tersebut bernama Qadianiyah. Ahmadiyah Qadianiyah merupakan sebuah sekte yang menjadikan Agama Islam sebagai semboyannya untuk kelancaran misi-misi terselubung. Yang paling menonjol dari perbedaan paham sekte ini dengan Islam pada umumnya terletak di Pimpinannya mereka sebagai Nabi, kedua teks Al-qur’an di ubahnya, ketiga jihat itu dalam pemahaman ini tidak ada. Secara historys, Qadianiyah itu adalah anak emas imperialis Inggris, dan ia muncul ke permukaan atas proteksi  tentunya dari imperialis itu juga. Menurut beberapa keterangan,  Qadianiyah bersebrangan dengan Islam sangat tajam, dan ia berkoloborasi dengan imperialisme, Zionisme, oposisi Islam lainya, dalam rangka untuk melakukan degradasi Aqidah Islam dan melakukan upaya pemutarbalikan agama Islam. misalnya mendirikan tempat-tempat ibadah yang biayanya adalah dari imperialis dan lainya, untuk mengadakan penyesatan dengan konsepsi-konsepsi Qadiani. Kemudian juga, membangun sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, panti asuhan anak yatim, dan Qadianiyah mejalankan kegiatan destruktif dengan sarana  pendidikan tersebut untuk menggalang kekuatan yang akan melakukan konfrontasi dengan Islam kemudian hari. Sebuah rahasia umum yang tidak asing di kalangan umat muslim dunia bahwa, diduga kuat adalah Qadianiyah-lah yang mengeluarkan terjemahan yang tidak benar dari teks Al-qur’an dalam berbagai bahasa di dunia,tentunya upaya ini tidak lepas dari keinginan musuh Islam yang sesunggunya. Dan mereka berada di luar jangkaun umat muslimin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s