Interpretasi Agama Yang Menuai Terorisme


Oleh: Nofal Liata

Sewaktu orde baru berkuasa sampai dengan Soeharto di lengserkan oleh Amin Rais dan kawan-kawannya, tidak terdengar bahwa di masa kepemerintahan Soeharto di sibukan dengan mengurus umat Islam Indonesia yang radikal, malahan gerakan Islam radikal waktu itu tidak begitu populer di layar berita televisi. Hal ini bisa saja terjadi karena, kerapian Soeharto dalam menjaga kestabilan pemerintahnya untuk jangka panjang dengan kekuatan militernya. Sebelum Soeharto berkuasa, gerakan perlawanan mengatas namakan Islam pernah ada dan mendapat tempat di hati masyarakatnya. Di era Soekarno, sejarah tentang gerakan Islam garis keras di masa Indonesia modern yaitu salah satunya gerakan Islam DI/TII (Darul Islam / Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini tumbuh subur di tiga wilayah, Jawa Barat, Aceh, Makasar. Pada saat itu gerakan ini bukan masyarakat umum yang menjadi sasarannya, ataupun bukan juga kepentingan Barat tujuannya yang ada di Indonesia. Namun gerakan ini lebih kepada suatu kelompok masyarakat yang menginginkan adanya Syariat  Islam sebagai dasar negara Indonesia.

Setelah waktu berlalu begitu tenang, gerakan Islam garis keras muncul kembali pada awal tahun 1970-an dan 1980-an. Kelompok seperti Komando Jihad, Ali Imron, Teror Warman dan semacamnya muncul ke permukaan. Dan arah perjuangan kelompok ini lebih kepada menyatakan perang terhadap “ideologi komunisme dan gerakannya di Indonesia”. Oleh sebab itu gerakan-gerakan Islam radikal semacam ini, banyak dugaan bahwa kelompok ini di mamfaatkan oleh intelejen pemerintah Indonesia untuk melawan komunisme. Di samping itu, gerakan-gerakan ini dijadikan legitimasi bagi pemerintan saat itu untuk melarang dan menindak tegas gerakan Islam garis keras di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memotong gerakan tersebut berkoloborasi dengan partai politik yang mengunakan isu agama dalam kampanyenya. Usaha tersebut nampaknya berhasil dan gerakan Islam garis keras menjadi stigma jelek di mata masyarakat untuk kemudian hari.

Pada tahun 1998, angin reformasi berhembus kencang di Indonesia yang memaksakan Soeharto harus menyerahkan kepemipinan Indonesia ke tangan B.J Habiebie. Seiring proses itu berjalan dan kondisi Indonesia pada umumnya sedang mengalami krisis, beriringan itu gerakan Islam garis keras juga bermunculan. Misalnya lahir gerakan seperti Front Pembela Islam, Laskar Jihat, Majelis Mujahidin Indonesia dan lain sebagainya, yang menunjukan bahwa kemunculan mereka kelompok Islam radikal itu sebagai wujut dari respon psikologis yang tertunda terhadap kekuasaan yang otoriter. Sesungguhnya jika diletakan pada porsinya fenomena kemunculan mereka itu adalah merupakan sebuah kosekwensi dari sebuah masa keterbukaan di era reformasi.

Sedangkan atmosfir dunia pada tahun 2001 adalah titik awal masyarakat Islam se-dunia harus menelan kenyataan pahit, dimana kejadian serangan terhadap Word Trade Center telah di jadikan kambing hitam oleh pemerintahan George Walker Bush Amerika, dan dengan kejadian itu pula ia membangun opini publik dunia bahwa Islam adalah terorisme dan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden di balik kejadian serangan itu. Tragedi 11 September 2001 di Amerika ternyata berdampak langsung kepada umat Islam Indonesia, dimana masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama Islam secara keseluruhanya. Umat Islam Indonesia yang dikenal moderat, tiba-tiba turut disoroti dunia karena diyakini banyak teroris yang melakukan aktifitas dan bersarang di Indonesia. Bahkan sorotan dunia semakin mengerucut kepada sebuah istitusi pendidikan Islam yang berdiri di Jawa Tengah tepatnya di Solo yang bernama pasantren Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo. Sorotan media dunia terhadap pasantren tersebut di sebabkan adanya tokoh-tokoh senior pasantren itu yang diduga menjadi petinggi organisasi Islam garis keras “jamaah Islamiyah” yang di tetapkan oleh PBB sabagai salah satu organisasi teroris.

Di Indonesia sendiri, ketika stigma dunia berdatangan begitu derasnya yang mengatakan Indonesia sarang teroris, dan pada saat itupun semua elemen bangsa Indonesia bersikukuh untuk mengatakan negeri Indonesia aman dan paling tidak Indonesia bukan sarang teroris. Kemudian sebuah fakta muncul kepermukaan yang tidak pernah diperkirakan terjadi, yaitu sebuah bom dengan kekuatan dasyat meledakan di Legian Bali yang menewaskan ratusan turis asing terpangang mati. Dengan kejadian itu, maka dunia semakin yakin bahwa Indonesia adalah memang sarang teoris. Di tambah lagi setelah di telusuri pelakunya adalah memang orang-orang Indonesia sendiri. Eksekutor pengeboman di Legian Bali menurut fersi pemerintah Indonesia dan Sidney Jones Amerika, para tersangka masing-masing memiliki hubungan dengan pasantren Ngruki, khususnya dengan Abu Bakar Ba’asyir yang tak lain adalah beliau sangat mengutuk sikap imperialis, ekspansi, dan hegemoni negara Amerika terhadap negara muslim.

Dengan rentetan peristiwa ini maka masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya sangat terkejut, karena adanya sekelompok umat Islam yang aksi-aksi mereka lakukan bertolak belakang dengan kelompok mayoritas muslim Indonesia secara luas yang dikenal moderat dan sekuler. Kemudian secara tiba-tiba masyarakat Indonesia semua lapisan mengalami sindrom fobia yang sama dan pemerintahpun juga ikut terkena gejala ini, yang bahwasanya jika ada sekelompok orang dengan ciri-ciri yang khas seperti, bersorban atau berpeci, memakai baju koko putih, memelihara janggut, memakai celana warna gelap panjang di atas mata kaki, sering berkumpul mengadakan pengajian, mereka inilah patut disinyalir adalah para teroris dan mereka inilah penyebar teror. Fenomena gejala fobia ini yang di alami masyarakat Indonesia tak terlepas dari semua rentetan kejadian ekstrimis di dunia yang terjadi pada abad 20-21 yang semuanya juga di lakukan oleh kelompok muslim sendiri. Kemudian tak dapat dielakan bahwa dengan kehadiran mereka di Indonesia kelompok Islam garis keras, radikal, ekstrimis, militan, telah memberikan citra negatif terhadap Islam Indonesia di muka wacana dunia. Di lain sisi juga harus menjadi catatan bagi umat muslim Indonesia bahwa, kehadiran kelompok Islam radikal dalam isu perpolitikan nasional juga berhubungan dengan perkembangan ideologi keagamaan selama ini yang di sebut salafisme. Akhirnya isu semacam inipun sangat mudah di jadikan komoditi politisasi untuk para penguasa atau elit politik yang sewaktu-watuk bisa di pergunakan untuk kepentingan tertentu pula. Misalnya jika ada masalah sensitif dan krusial oleh para penyelengara negara, maka isu teroris siap mengantikanya untuk konsumsi publik.

Banyak para ahli yang berpendapat bahwa, kemunculan kelompok Islam garis keras di dunia sunni sekarang ini berkaitan dengan reformasi ideoligi salaf. Yaitu sebuah paham yang mengajarkan umat Islam agar mencontoh prilaku Nabi Muhammad dan para sahabat. Ideologi salaf, yang pada awalnya menekankan pada permurnian akidah, mengalami metamorfosis pada abad ke-20. Salafisme tidak hanya gerakan purifikasi keagamaan semata tetapi menjadi ideologi perlawanan terhadap berbagai faham yang tidak sesuai dengan nilai agama, termasuk perlawanan terhadap ke suatu negara lain, bahkan terhadap negara yang di diaminya sendiri dengan cara-cara tertentu pula.

Di tinjau dari sudut sejarah munculnya salafisme dapat di lihat dari gerakan wahabi yang terjadi di Hijaz sekitar abad 19. Wahabisme dapat di kategorikan sebagai kelompok, mengikuti Arjomand, fundamentalis-skripturalis, yang menitiberatkan pada pentingnya kembali kepada sumber Islam yang sejati, yaitu Alqur’an dan sunnah. Dalam pemikiran Ibn Taimiyah juga bisa di lihat akar wahabisnya dan ia juga adalah yang memprakarsai gerakan salaf. Selain itu dalam pemikiran Ahmad ibn Hambal dapat ditemukan hal yang sama juga. Dan pendiri mazhab Hambali  yang mengajarkan pula keutamaan sunnah daripada qiyas.

Seorang ulama dan cendikiawan muslim bernama Muhammad Abduh yang lahir di Mesir pada abad 19, ia adalah orang yang pertama mengajarkan bahwa “Islam dapat dipertemukan baik dengan modernitas”. Di luar dugaan, namun bagi para penerusnya yang setia pada konsep pemikirannya itu tidak dapat meneruskan semangat ini dari Muhammad Abduh dengan baik. Para penerus ini setelah Abduh kemudian malah terjebak kedalam semangat salafi yang sempit. Selanjutnya gerakan modernisme pasca Abduh melahirkan varian-varian yang berbeda, bahkan bertolak belakang dengan apa yang telah Abduh gagas. Akhirnya timbulah gerakan pemikiran “Abduh kanan”, dan “Abduh Kiri”. Yang lebih condong ke “Abduh kiri” seperti Ali Abdurraziq, dan Hazan Al-Bana merupakan “Abduh Kanan”.

Pemikran sosial-politik yang di tawarkan oleh kelompok salaf dapat dilihat dalam konsep metode pendidikan yang menekankan pada nilai moral agama, seperti taqwa, qana’ah (menerima pemberian Allah), syukur, zuhd (bersikap sederhana untuk urusan dunia), sabar, tawakal,  dan yang terakhir metode pemikiran mengutamakan dimensi akidah-akhlak yang kemudian menggolongkan manusia menjadi ‘’saudara” dan “musuh”. Metode yang terakhir ini pula yang menolak realitas kebudayaan non-Islami. Kesemua hal inilah yang mencirikhaskan dan mendasari gerakan salafi di seluruh dunia Islam. Padahal jika berkaca pada sejarah Rasulullah SWA, momentum piagam Madinah merupakan salah satu bukti bahwa Islam itu tidak ekstrimis terhadap bukan golongannya, dan Islam-pun ketika itu tidak melakukan serangan terhadap non-muslim, namun hanya melakukan perlawanan pembelaan diri jika Islam di serang.

Menurut perspektif kaum salaf termasuk mereka yang ada di Indonesia, Islam sekarang ini penuh dengan debu-debu zaman yang kotor, karena itu harus di bersikan dan di perbaharui, dan semangat Islam sejati harus di temukan kembali. Jika perlu Islam ketika sosial-politik masyarakat pada abad ke 7-8 M, di implementasikan kembali sosial-politik model itu pada konteks masyarakat abad 21 sekarang ini. Dengan semangat ini, kemudian kelompok radikalisme ini merumuskan agenda-agendanya. Agenda besar salafisme adalah pencarian mengenai otentisitas yang selanjutnya di terjemahkan dalam beberapa konsep, seperti ahklak Islam, syari’at Islam, masyarakat Islam, negara Islam, Khilafah Islam, dan ekonomi Islam.

Dengan melihat fenomena yang di timbulkan, terlihat jelas bahwa gerakan salafi yang pada mulanya gerakan permurnian agama Islam yang kemudian mengalami perumusan ulang dan menjadi sebuah ideologi untuk merespon perkembangan dan perubahan yang terjadi pada pada abad ke 20. Alasan utama pada abad 20 dan sebelum-belumnya, karena di masa itulah terjadi kolonialisme, modernisme, sekulerisme, kapitalisme, yang berujung di dominasi oleh hegomoni Barat atas Dunia Ketiga termasuk dunia Islam di dalamnya. Dan hal lain yang terjadi atas kuatnya non-muslim  dan lemahnya kaum muslimin dunia mengakibatkan gagalnya kaum Islam mengantisipasi perubahan yang dilakukan oleh mesin medernisme. Akibat kongkritnya adalah, umat Islam terpinggirkan secara sistematis di dalam hal percaturan ekonomi, sosial, dan politik, di pentas internasional dan nasional di masing-masing negara. Kaum Islam yang terpinggirkan selanjutnya berpaling kepada agama dan menjadikan tindakan-tindakan radikal mereka sebagai atas nama agama sebagai alat legitimasi. Dengan demikian, gerakan salafi radikal pada dasarnya adalah bentuk protes terhadap lingkungan sekitarnya yang tidak berpihak padanya.

Ketidaksiapan dalam mengantisipasi perubahan yang cepat ini, menyebabkan kelompok salafisme radikal dihinggapi oleh rasa kekhawatiran dan ketakutan secara berlebihan pada kuatnya pengaruh sekulerisasi dan westernisasi pada kaum Islam. Kegagalan kaum beragama dalam mengantisipasi perubahan yang di bawa oleh  mesin modernisme ternyata telah membuat krisis yang berkempanjangan sampai saat ini. Pada tahap tertentu rekonstruksi ini bisa menjadi landasan bagi terciptanya identitas yang berusaha melawan sistem peradaban yang ada. Dari sinilah kemudian salafisme agama melahirkan radikalisme, atau upaya interpretasikan agama yang menuai terorisme. Selain itu, gerakan salafisme radikal di Indonesia tidak hanya semata-mata di sebabkan oleh faktor-faktor yang di atas saja, dan yang tidak kalah penting juga adalah gerakan ini muncul termasuk  sebagai respon terhadap buruknya pelayanan negara terhadap masyarakanya, dan membiarkan masyarakatnya terombang-ambing tampa di dampingi oleh agama dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s