Islam Aceh  dan Walisongo

Oleh: Nofal Liata

 

 

Dalam sejarah Islamisasi di tanah Jawa, terkenallah beberapa tokoh ulama besar yang sangat melekat pada ingatan masyarakat Jawa, dan tokoh ulama-ulama tersebut sering sekali mewarnai berbagai literatur pembahasan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Jawa. sebuah wadah yang disebut “dewan dakwah”, dimana dalam wadah ini adalah sembilan ulama besar dan merekalah yang bertanggungjawab atas Islamisasi di tanah Jawa. Sembilan nama ulama besar ini terkenal kemudian dengan sebutannya Wali Songo, (sembilan wali) yang beberapa di antara mereka adalah berasal dari Pasai Aceh. Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa di mulai dari abad ke 14. Mereka kemudian bertempat tinggal di tiga wilayah penting yang berbeda di pantai utara pulau Jawa, yaitu meliputi: Jawa Timur di daerah Surabaya, Gresik, Lamongan. Jawa Tengah di daerah Demak, Kudus, Muria. Dan di Jawa Barat yaitu di Cirebon. Karena ulama-ulama ini dalam  suatu dewan dakwah, maka apabila salah satu anggota dewan ini meninggal, maka akan dicari penggantinya. Sebenarnya, para ulama-ulama yang menyebarkan Islam di Jawa tidak hanya terdiri dari sembilan wali saja, melainkan lebih bahkan mereka terdiri dari beberapa periode, namun tokoh ulama yang sangat terkenal dan memiliki pengaruh yang besar ialah: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajad, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati. Menurut KH. Mohammad Dahlan, Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun hubungan antara mereka memiliki keterkaitan yang erat satu sama lainnya, baik dalam ikatan darah (orang tua dengan anak) atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan sebagai guru dengan murid.

Ketika masa Walisongo melaksanakan tugasnya yaitu memperkenalkan agama Islam pada masyarakat Jawa, pada saat itu adalah era (kekacauan) melemahnya dominasi Hindu-Budha (Majapahit) dalam budaya Nusantara untuk kemudian digantikan dengan kebudayaan Islam, dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16. Dan sebelumnya di Aceh pada abad ke 9, telah berdiri sebuah kerajaan Kesultanan Islam Peureulak, yang kemudian menjadi kerajaan Islam terbesar dan megah di Asia Tenggara pada masa Sultan Malikussaleh di abad 13. Jadi dengan demikian terlihat jelas bahwa kerajaan Samudera Pasai telah berkontribusi besar dalam meng-Islamkan masyarakat Jawa dengan melihat pendekatan abad, dan saat itu pula para Mubaliqh dari Pasai di tugaskan untuk berdakwah ke Jawa yaitu yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim, yang kemudian dikenal  Walisongo. Walisongo dalam pandangan masyarakat Jawa adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan memperkenalkan Islam. Namun peranan mereka (Walisongo) yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak mendapat perhatian dibanding tokoh yang lain. Kemudian dalam metode dakwah yang dilakukan oleh para Walisongo memiliki keunikan masing-masing yang satu sama lain cenderung tidak sama dan melakukan penyesuaiyan dengan masyarakat setempat, hal ini disebabkan karena para Walisongo telah memahami konteks sosial-politik masyarakat Jawa yang telah lama di bawah bimbingan Majapahit yang berpaham dinamisme dan animisme. Jadi singkretisme dalam kepercayaan (Islam) di Jawa sampai saat ini merupankan warisan Majapahit. Selain itu, Para Walisongo merupakan  kumpulan orang-orang intelektual yang menjadi pembaharu bagi masyarakat Jawa pada masanya. Pengaruh mereka terasa dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru di Jawa, selain memiliki pengetahuan agama yang tinggi, para Walisongo juga mengajarkan cara menjaga Kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga perihal kepemerintahan.

Mengenai asal dari mana para Walisongo, banyak orang sedikit sekali menyadarinya bahwa empat dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa berasal adalah dari Samudera Pasai.[1] Hal ini terjadi karena tidak ada perhatian  serius (penelitian secara mendalam) dari berbagai pihak baik di Aceh maupun ilmuan di Jawa. mereka dalam mengkajinya cenderung tersamarkan referensi mengenai kejayaan kerajaan Islam Aceh, tetapi memang demikianlah faktanya sekarang. Mungkin sebagian generasi baru di Aceh dan para ilmuan di Jawa tidak memahami bahwa, Belanda punya kecenderungan untuk tidak mengakui keagungan kerajaan Islam dan upaya kerajaan Islam Pasai dalam islamisasi di Nusantara, (Belanda melakukan ini untuk kelancara zendeling-misionaris di bumi Nusantara). Alhasil, kajian-kajian yang dilakukan oleh ilmuan yang di Jawa menjadi kontradiktif dengan faktanya, dan ini berlangsung begitu saja tampa ada kajian yang kritis kemudian. Selain itu, sejarah yang kontradiktif ini menjadi mata pelajaran untuk generasi bangsa berikutnya semenjak negara Indonesia lahir, ataupun memang ada unsur-unsur tidak ada tempat sejarah kerajaan Islam Pasai dalam pengetahuan anak bangsa Indonesia, sehingga menjadikannya samar dan gelap. Padahal kerajaan Islam Samudera Pasai telah banyak melakukan dakwah-dakwah ke sebahagian wilayah-wilayah Asia Tenggara.

Telah berlangsung lama mengenai, dari manakah asal mula seorang wanita yaitu Puteri Champa yang telah menjadi pendamping hidup (istri) dari Raden Prabu Barawijaya V. Dan Raden Prabu Barawijaya sendiri adalah Raja terakhir dari Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa. kemudian, dari hasil perkawinan ini telah melahirkan seorang putra yang kemudian di kenal yaitu Raden Fatah, Sultan pertama Kerajaan Islam Demak. Kemunculan Kerajaan Islam Demak pertama ini adalah menandakan mengsaingi Kerajaan Hindu Jawa yang terpaksa kalah  dan berakhir kekuasaannya di Jawa. Untuk mengkaji lebih mendalam lagi, maka akan di gunakan dua pendekatan teori dan akan membahas dua teori tersebut secara lebih luas lagi. teori yang Pertama yang dikemukakan oleh Christiaan Snouck Hurgroje[2] dan para peneliti Belanda lainnya, menyatakan yaitu: bahwa daerah Champa beranggapan di sekitar wilayah Kambodia (Vietnam sekarang). Dari asumsi ini, kemudian mereka menyatakan bahwa Wali Songo dalam proses melakukan Islamisasi di Jawa menjadikan daerah Champa-Kambodia ini sebagai tempat basis perjuangan. Kemudian mereka beranggapan lagi bahwa, di Champa-Kambodia peradaban Islamnya lebih besar dan maju dari pada di Aceh. Padahal, di Champa-Kambodia masa itu sedang di perintah oleh Che Bong Nga 1360-1390 Masehi, dan tidak ada sumber yang jelas apakah Raja ini Muslim atau bukan. Namun pada umumnya agama Buhda adalah mayoritas penduduk Kambodia sampai sekarang, hal ini bisa di lihat dari banyaknya peninggalan kuil-kuil dan sulit menemukan bagunan masjid di sana. Disisi lain, mengenai literatur hubungan Penguasa Champa dengan Islam tidak banyak, ditambah lagi tidak ditemukannya bukti kegemilangan (era-emas) Islam disana. Hal ini berbeda jika dibandingkan sebagaimana yang ditinggalkan para pendakwah di Perlak, Pasai dan Malaka. Ketika itu, di Champa Kambodia yang bersamaan masa Maulana Malik Ibrahim sedang terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim. Jadi sangat mustahil bagi Walisongo untuk menjadikan Champa Kambodia sebagai basis perjuangan Islam di sana dengan kondisi seperti itu. Namun teori dari orientalis Belanda ini banyak di jadikan rujukan oleh ilmuan-ilmuan yang berada di Indonesia khususnya di Jawa.

Sedangkan teori yang kedua datang dari Raffles[3] yang ber-argumen bahwa: Champa yang banyak di asumsi orang Indonesia bukan berada di Kambodia (Vietnam) sekarang, sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Akan tetapi, munurut Raffles, Champa adalah sebuah nama daerah di sebuah wilayah tepatnya berada di Aceh, dan masyarakat Aceh setempat menyebut daerahnya itu dengan nama ”Jeumpa”, sekarang dikenal daerah ini dengan nama kabupaten Aceh Jeumpa kota Bireun. Kata Jeumpa bagi dialek bahasa Jawa pada saat itu menjadi kata Champa, karena salah penyebutan itu akhirnya bagi ahli sejarah berikutnya mengalamatkan (menghubungkan) Walisongon dengan kerajaan Champa Kambodia dan Vietnam sekarang. Kata Jeumpa di Aceh sendiri terurai indah dalam sebuah lagu clasik Aceh dengan potongan liriknya, “bungong Jumpa bungong Jumpa meugah di Aceh” (bungan Jeumpa-bungan Jeumpa megah di Aceh). Makna dari Bungan Jeumpa adalah, wanita[4] daerah Jeumpa Aceh terkenal ke penjuru dunia baik karena kecantikannya, (seperti kisah: Permaisuri[5] Maha Prabu Brawijaya V), keperkasaannya (seperti kisah Cut Nya Dien, Malahayati), kepemimpinan (seperti kisah Ratu-ratunya Aceh) dan lain-lainnya. Dalam Babad Tanah Jawi, di sebutkan bahwa ”Putri Champa” adalah  istri Prabu Brawijaya V, ia bernama Anarawati (Dwarawati) dan ia beragama Islam. Kemudian, masih dalam kisah yang sama bahwa putri Champa-lah yang melahirkan Raden Fatah. Raden Fatah sendiri oleh ibunya menyerahkan pendididikan putranya itu kepada keponakannya yaitu pada Sunan Ampel (Raden Rahmat) yang berada di Ampeldenta Surabaya. Dalam perjalanan yang panjang Raden Fatah kemudian menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

Sebuah keyataan yang harus di terima oleh Putri Champa, ia meninggalkan daerah kelahirannya untuk pergi ke tanah Jawa, konon suaminya pada saat itu masih beragama Hindu. Berhubung adanya sebuah misi besar yang akan di lakukan oleh Ulama Maulana Malik Ibrahim, maka wanita inipun ikut melakukan perjuangan islamisasi di Jawa, dan Maulana Malik Ibrahim sendiri adalah ketua dari rombongan dewan dakwah yang di tugaskan oleh Sultan Muslim kerajaan Islam. (ketika itulah putri Champa menjadi istrinya Prabu Brawijaya V). Sebuah sikap yang sangat berani di ambil oleh Putri Champa, takalah pada saat itu ia rela meninggalkan kompleks lingkungan istana Majapahit dengan tujuan agar anaknya mendapat pendidikan agama Islam yang baik pada Raden Rahmat (Sunan Ampel). Dan Sunan Ampel juga di lahirkan di daerah yang sama dengan Putri Champa di kerajaan Islam yang mega itu.

Syeh Maulana Malik Ibrahim adalah seorang tokoh ulama besar yang pertama-tama yang memperkenalkan Islam (Islamisasi) di Jawa, Banyak Para ahli sejarah yang memperkirakan Maulana Malik Ibrahim berada Champa selama 13 tahun lamanya, antara tahun 1379 sampai dengan 1392. Untuk menghindari multi tafsir atas kata Champa, asal dari mana Putri Champa, Maulana Malik Ibrahim, dan rombongannya itu, maka di sini akan melakukan perbandingan mengenai Champa di Aceh dengan Champa di Kambodia. Sultan Cam atau Sultan Champa adalah Wan Abdullah atau Sultan Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo Teri atau Wan Bo, yang memerintah pada tahun 1471 M – 1478 M. Dan Sultan Cham ini adalah anak saudara dari Maulana Malik Ibrahim, yaitu anak dari adik beliau bernama Ali Nurul Alam, dari ibu keturunan Patani-Senggora di Thailand sekarang.

Berdasarkan silsilah Kerajaan Kelantan Malaysia, adalah: Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammas Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Raja Champa yang merupakan mertua Maulana Malik Ibrahim, sekaligus ayah kandung dari Puteri Champa ini menjadi kurang tepat jika di jadikan sebuah asumsi demikian. Padahal jika dikaitkan dengan fakta di atas (sisila Kerajaan Kelantan Malaysia), mustahil mertua Maulana Malik atau ayah ”Puteri Champa” itu adalah Wan Bo (Wan Abdullah), karena menurut silsilah dan tahun kelahirannya, beliau Wan Bo (Wan Abdullah) adalah anak saudara Maulana Malik yang keduanya terpaut usia 50 tahun lebih. Raden Rahmat (Sunan Ampel) sendiri lahir pada tahun 1401. Dengan demikian sangat berkemungkinan yang dimaksud dengan Kerajaan Champa tersebut bukan Kerajaan Champa yang dikuasai Dinasti Ho Vietnam, tapi sebuah perkampungan kecil yang berdekatan dengan Kelantan. Pendapat yang lain juga mengatakan Champa itu berdekatan dengan daerah Fatani, Selatan Thailand berdekatan dengan Songkla, yang merujuk daerah Senggora.

Jamaluddin pertamanya ia menjejakkan kakinya ke Kemboja dan Aceh,[6] kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, dan dia meninggal disana. (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke Nusantara bersama rombongan kaum kerabatnya. Anaknya Saiyid Ibrahim, yaitu Maulana Malik Ibrahim ditinggalkan di Aceh untuk mendidik masyarakat setempat dalam bidang ilmu keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Jawa, selanjutnya ke negeri Bugis pada tahun 1452 M, dan meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan) pada tahun 1453 M. Dengan demikian terlihat jelas bahwa, yang ke Kamboja itu adalah ayahnya Maulana Malik Ibrahim, yaitu Saiyid Jamaluddin yang menikah di sana dan menurunkan Ali Nurul Alam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia pada paruh awal abad ke-14[7]. sehingga ia di gelar Syekh Maghribi. Dan Maulana Malik Ibrahim sendiri dibesarkan di Aceh, dan ia menikah dengan puteri Aceh yang dikenal sebagai Puteri Raja Champa, yang melahirkan Raden Rahmat (Sunan Ampel). Kawasan Jeumpa (Champa) pada saat itu merupakan mitra Kerajaan Pasai yang menjadikan tempat jalur dan tempat peristirahatan yang menuju ke Kota seperti seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Dan selain itu, Kerajaan Pasai merupakan tempat pengembangan Islam, dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama  dari seluruh penjuru dunia. Sedangkan Sultan-Sultan Kerajaan Aceh sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama di istananya, dan disitupun banyak berkumpul sejumlah ulama besar seperti dari Persia, India, Arab dan dari lain-lainnya.

Menurut Ayzumardi Azra[8] dalam  Jaringan Ulama Nusantara, ia menjelaskan bahwa hubungan dakwah yang menggunakan jalur laut pada saat itu sudah terjalin sangat bagus yang berhubungan lintas pulau dan benua, misalnya seperti Jawa-Pasai-Gujarat-Persia-Muscat-Aden sampai Mesir. Sementara di wilayah Aceh yaitu di Jeumpa, lebih mungkin berada sebagai pusat gerakan untuk para ulama-ulama, ketimbang di Champa Kambodia sebagai jaringan ulama dan hal ini sulit karena Kambodia-Vietnam sendiri mengalami iklim tidak kondusif dan tidak stabil yang menguntungkan Islam. Kerajaan Pasai merupakan tempat pusat Islamisasi Nusantara, oleh dasar itu, maka kerajaan Islam Pasai tentunya mempunyai kepentingan dalam rangka menumbangkan Kerajaan Jawa Majanpahit yang beragama Hindu, karena Kerajaan Majanpahit adalah satu-satunya penghalang utama untuk pengislaman tanah Jawa. Di Kerajaan Pasai merupakan tempatnya berkumpul berbagai para Ulama dari berbagai latar belakang dan para cerdik pandai Kerajaan Pasai, mereka inilah yang kemudian menyusun strategi terus menerus dengan segala jaringannya untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu itu. Salah satu dari satrategi itu adalah, ditempuhlan jalan diplomasi dan dakwah oleh para duta dari Kerajaan Pasai. Maulana Malik Ibrahim di percayai sebagai kepala rombongan sekaligus ia utusan senior dari para pendakwah. Strategi yang lainya juga yaitu yang dianggap bijak melalui jalur perkawinan, antara Puteri Jeumpa (Dwarawati) dengan Prabu Brawijaya V. Dari hasil perkawinan ini sejarah mencatat bahwa lahirlah Raden Fatah yang kemudian menjadi Sultan Kerajaan Islam Demak pertama, yang kemudian menumbangkan Kerajaan Jawa Majapahit dan kerajaan-kerajaan Hindu lainya.

Hubungan satu sama lain di antara para pendakwa Walisongo bisa dilihat sebagai berikut, baik dalam ikatan darah (orang tua dengan anak), pernikahan, maupun dalam hubungan sebagai guru dengan murid:

(1). Maulana Malik Ibrahim: Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, dan Maulana Ishak sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia. Pasai merupakan tempat kediaman Maulana Malik Ibrahim, sang toko utama dan pertama dari gerakan Wali Songo yang berperan dalam pengembangan Islam dan melahirkan para Ulama di tanah Jawa. Mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh Maghribi. Beliau sendiri dibesarkan di Aceh dan menikah dengan puteri Aceh yang dikenal sebagai Puteri Raja Champa, yang melahirkan Raden Rahmat (Sunan Ampel). Maulana Malik Ibrahim meninggal di Gresik tahun 1419 M, dan Makamnya yang terletak dikampung Gapura di Gresik.

(2). Sunan Ampel: atau Raden Rahmat yang dikatakan lahir di Champa  yang merupakan Jeumpa-Aceh, kemudian hijrah pada tahun 1443 M ke Jawa dan mendirikan Pesantren di Ampeldenta Surabaya, ia adalah seorang ulama besar, yang tentunya mendapatkan pendidikan yang memadai dalam lingkungan Islami. Sunan Ampel adalah anak dari Maulana Malik Ibrahim dengan Putri Raja Champa. Putri Raja Champa adalah wanita asal Jeumpa-Aceh. Sunan Ampel kemudian kawin dengan putri Tuban bernama Nyai Ageng Manila, dari perkawinannya ini beliau memperoleh 4 orang anak: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), Putri Istri Sunan Kalijaga. kemudian Sunan Ampel wafat pada tahun 1425 M, serta dimakamkan di Tuban.

(3) Sunan Bonang: atau Raden Maulana Makdum Ibrahim, kemudian masyarakat Jawa lebih mengenal dengan sebutan Sunan Bonang, ia adalah seorang putera dari Sunan Ampel. Sunan Bonang mendapat pendidikan agamanya pada ayahnya sendiri yaitu Sunan Ampel. Sunan Bonang daerah tugas dakwah-Islamisasi semasa hidupnya adalah terutama di wilayah Tuban dan sekitarnya (Jawa Timur), dan ia dikenal seorang ulama semasa hidupnya yang gigih dan giat sekali menyebarkan agama Islam. Sunan Bonang juga mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban, di pasantren ini pula ia mendidik serta menggembleng kader-kader muda Islam yang kemudian merekalah yang akan ikut juga menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas (hari sial) menurut kepercayaan Hindu, serta Sunan Bonang mengantikan juga nama-nama dewa Hindu dengan nama-nama malaikat dan nama nabi-nabi.

Di masa hidupnya, beliau juga termasuk orang yang membantu berdidinya kerajaan Islam Demak. serta ia ikut pula membantu mendirikan Masjid Agung di kota Bintoro Demak. Pada masa hidupnya Sunan Bonang pernah belajar ke Pasai. Pada saat itu di Pasai terdapat perguruan tinggi Islam, dengan kata lain Sunan Bonang juga alumni perguruan tinggi Islam yang sudah berkembang pesat di Aceh. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan bangsawan dari keraton Majapahit, serta mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul bagi para murid-muridnya. Sunan Bonang juga adalah yang memberikan pendidikan Islam kepada Raden Patah putera dari Brawijaya V, dari kerajaan Majapahit, dan menyediakan Demak sebagai tempat untuk mendirikan negara Islam. hal ini terlihat dari kepintaranya yang tampak berpolitis, dan Sunan Bonangpun rupanya tercapai cita-citanya (impian) atas terbangunnya kerajaan Islam di Demak. Sunan Bonang diperkirakan lahir pada tahun 1465 M, serta meninggal dunia pada tahun 1525 M.

 

(4). Sunan Giri: lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Maulana Malik Ibrahim memiliki seorang saudara yang terkenal sebagai ulama besar di Pasai, bernama Maulana Saiyid Ishaq. Maulana Saiyid Ishaq inilah sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Maulana Saiyid Ishaq ayahnya (Sunan Giri) itu awalnya tinggal di Jawa kemudian pergi ke Pasai-Aceh dan ia tidak kembali lagi ke tanah Jawa, maka Raden Paku atau Sunan Giri kemudian diambil sebagai putera angkat oleh seorang wanita kaya yang bernama Nyi Gede Maloka. Dalam Babad Tanah Jawa, disebut bernama dengan Nyai Ageng Tandes atau Nyai Ageng. Sunan Giri mendapat pendidikannya pada Raden Rahmat (Sunan Ampel). Dalam masa pendidikan itulah Raden Paku bertemu dengan Maulana Makdum Ibrahim, putera-puteranya Sunan Ampel yang bergelar Sunan Bonang. Suatu ketika, Sunan Ampel memerintahkan kepada Maulana Makdum Ibrahim dan Raden Paku untuk pergi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Dalam perjalanan menuju ke tanah Suci itu,  mereka singgah terlebih dahulu di Pasai-Aceh untuk menuntut ilmu pada para ulama di tempat tersebut. Raden Paku yang kemudian bergelar Syekh Ainul Yaqin[9] mengadakan tempat berkumpul di pondok pesantrennya di Giri, itu sebabnya ia dijuluki Sunan Giri. Dimana murid-muridnya terdiri pada orang-orang kecil (rakyat jelata). Kontribusinya dalam hal bidang lain misalnya, ia adalah ulama yang mengirim utusan (muridnya) ke beberapa wilayah ke luar Jawa. murid-muridnya itu didelegasikan misalnya ke Bawean, Kagean, Ternate, Haruku kepulauan Maluku, dan Madura. Amatlah besar kontribusinya itu jika kita melihat dari kegiatan yang ia lakukan. Sunan Giri ketika meninggal dunia dimakamkan di atas bukit Giri (Gresik). Dan kemudian pasca beliau (Setelah Sunan Giri) meninggal dunia, berturut-turut digantikan oleh yang lain seperti Sunan Delem, Sunan Sedam Margi, Sunan Prapen.

(5). Sunan Drajad: atau Syarifuddin lahir pada tahun 1470 M. adalah seorang putera dari Sunan Ampel, (Sunan Drajad adalah cucunya Maulana Malik Ibrahim dari Pasai). Nama Sunan Drajad ketika kecil yaitu Raden Qosim, Sunan Drajat juga adalah ikut pula mendirikan kerajaan Islam di Demak dan menjadi penyokongnya yang setia, daerah dakwahnya di Jawa Timur dan ia terkenal seorang waliullah yang berjiwa sosial. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria.

 

(6). Sunan Muria: Dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung. Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah. Sunan Muria seringkali menjadi penengah, takala konflik internal di kerajaan Kesultanan Demak muncul (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah. solusi yang di tawarkanyapun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

(7). Sunan Kudus: adalah cucu dari Usman Haji yang berasal dari Aceh. Ibu Sunan Kudus adalah adik kandung Sunan Bonang. Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq dan Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550. Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah Mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah. Dalam upaya untuk menghormati penganut agama Hindu, Sunan Kudus pernah meminta kepada masyarakat pada masanya untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha dan mengantikannya dengan kerbau, pesan untuk menggatikan sapi dengan kurban kerbau ini masih banyak didapati berlangsung pada masyarakat Kudus hingga saat ini. Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto, dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.

(8). Sunan Kalijaga: Lahir sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Pemahaman cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih jiwa kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, ia sangat toleran pada budaya lokal. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan singkretis dalam mengenalkan Islam.

 

(9). Sunan Gunung Jati: Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar, dan Syekh Jamaluddin Akbar sendiri adalah yang berasal dari Aceh. Dengan kata lain, Sunan Gunung Jati adalah cucunya dari Syekh Jamaluddin Akbar. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M.

       Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, nama ini lambatlaun berubah pengucapannya menjadi Fattahi’lah.[10] Fatahillah dikenal juga sebagai ulama yang pemberani dalam perperangan, ia mengusir Portugis dari Pelabuhan perdangangan Sunda Kelapa, dan kemudian memberi nama daerah tersebut dengan nama “Jayakarta” yang berarti Kota Kemenangan. Kemudian berubah lagi namanya menjadi Jakarta yang kita kenal salama ini. Fatahillah adalah anak dari salah seorang wazir (petinggi kerajaan), dan ia sekaligus juga seorang ulama yang kemudian pergi meninggalkan Pasai menuju Mekah, ketika daerah tersebut dikuasai oleh Portugis. Pada saat Fatahillah kembali ke Pasai, ternyata Pasai masih dikuasai oleh Portugis sehingga ia menuju ke Demak pada awal abad ke 15 M, Demak dimana pada masa itu pemerintahan Raden Trenggono. Kemudian Fatahillah dinikahkan dengan salah seorang adik Sultan Trenggono. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa, Fatahillah pergi ke Mekkah selama tiga tahun untuk memperdalam ilmu agama. Kedatangan Fatahillah ke Jawa pada saat itu disambut sangat baik oleh Sultan Demak (Pangeran Trenggono). Kemudian Sultan Demak memberikan dukungan penuh kepada Fatahillah untuk merebut Sunda Kelapa dan Banten dari kerajaan Pajajaran yang bersekongkol dengan Portugis, dan Fatahillah mendapat kemenangan. Pada tahun 1527 M, dan atas prestasi besar yang di perolehnya itu maka ia diangkat menjadi Bupati Sunda Kelapa oleh Sultan Demak. Kemudian pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahillah mengubah nama Bandar Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta. Inilah cikal bakal awal berdirinya kota Jakarta sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia.

Bibliografi:

Anwar,  Rosihan,  Kerajaan Islam Samudra Pasai , Harian Kedaulatan Rakyat, (Yogyakarta: 15 Maret 1988)

Arifin, Abdul Hadi, Malikussaleh Reinterpretasi Penyebaran Islam Nusantara, (Lhokseumawe: Unimal Press, 2005)

Azra,  Ayzumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauwan Nusantara Abad 17 Dan Abad Ke 18, (Bandung: Mizan, 1994).

Jakup, Ismail, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta: Widjaya)


[1] Lihat : “Kerajaan Islam Samudra Pasai ” H. Rosihan Anwar, Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 15 Maret 1988

[2] Christiaan Snouck Hurgroje adalah Orientalis Belanda yang pernah mempelajari Islam sampai pergi ke tanah Arab, dan ia tiba di Jeddah pada tanggal 28 Agustus 1884. Dalam upayanya itu ia berpura-pura memeluk agama Islam (menggati namanya menjadi Abdul Gaffar) untuk kelancaranya mengali informasi kelemahan umat Islam, di Mekkah. Atas saranya itu pemerintah Hindia Belanda menerapkan divide et impera (politik adu domba) di Nusantara khususnya di Aceh untuk memecah perjuangan umat Islam.

[3] Sir TS. Raffles adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial,  dalam bukunya The History of Java.

[4] Kata Jeumpa dengan Aceh di Nusantara, sering dikaitkan dengan puteri-puterinya yang cerdas dan cantik jelita, di karenakan buah persilangan antara Arab, Parsi, India dan Melayu, yang di Aceh. Kecantikan dan kecerdasan puteri-puteri Jeumpa (Aceh) sudah menjadi wacana tersendiri bagi pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Oleh karena itu seorang raja Jawa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mendambakan seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan bagaimana sang Prabu mabok kepayangnya ketika bertemu dengan Puteri Jeumpa yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim.

[5] Permaisurinya Maha Prabu Brawijaya V adalah Puteri Jeumpa yang berasal dari Aceh, dari pasangan ini kemudian melahirkan Raden Fatah, Sultan pertama Kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

[6] lihat Martin Van Bruinessen yang telah memetik tulisan dari  Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning.

[7] Lihat versi Meinsma, dalam Babad Tanah Jawi. Ia menyebutkan Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy.

[8] Lihat Ayzumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauwan Nusantara Abad 17 Dan Abad Ke 18, (Bandung: Mizan, 1994).

[9] Nama Syekh Ainul Yaqin diperoleh ketika ia telah tamat menuntut ilmu di Pasai, “Ainul Yaqin” yang di sandang itu adalah pemberian dari gurunya yang berada di Pasai. Dan Raden Paku berhasil mendapat Ilmu Laduni.

[10] Ismail Jakup, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta: Widjaya) hlm 31.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s