Memodernkan Masyarakat yang Beragama

Oleh: Nofal liata

 I

Dalam dunia Islam, sering kita jumpai bahwa penolakan-penolakan terhadap cara hidup baru bermasyarakat cederung kita ketemukan fenomena itu. Bahkan pada level tertentu umat Islam sebahagian terlena dengan gaya atau cara hidup bercorakan Arabisasi dengan asumsi bahwa jika sudah mendekati budaya Arab itu juga telah mendekati surganya Tuhan. Maka yang terlihat adalah untuk konteksnya masyarakat Indonesia lebih cenderung beribadah dengan pendekatan budaya Arab ketimbang membuka diri untuk menangkap pesan dari Al-qur’an. Jika kita melihat lebih mendalam lagi dalam agamanya Islam yang terpapar dalam Al-qur’an, maka dengan jelas di situ terlihat memberi pembelajaran untuk umat manusia khususnya umat muslim agar bisa menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi baik selama manusia di dunia ataupun menjelang akhir perjalanan manusia di dunia yaitu dunia akhirat. Dampak yang lebih ekstrim lagi adalah masuk keranah truth claim sesama umat Islam yang akan memperebutkan hak paten masuk surga, dan ini terus berputar di situ saja tampa ada upaya kesadaran menyeluruh oleh umat Islam Indonesia. Dan yang sangat penting lagi adalah kesadaran yang harus di bangun dengan pandangan bahwa Islam juga memberi tawaran yaitu keseimbangan hidup di dunia dan jaminan untuk akhirat.

Memang umat muslimin di beberapa bagian di belahan dunia pernah mengalami era emasnya, menjadi mercusuar pengetahuan untuk daerah yang dekat dengan dirinya, bahkan ke daerah lainya. Namun pertanyaan ini juga harus kita lontarkan “kenapa mercusuar itu tak lagi mengeluarkan cahaya pengetahuanya sebagai mana pernah ia lakukan dulu-dulu?” jikapun ada cahaya itu lemah di bangdingkan dengan capaian Barat. Ada apa dengan umat muslim?. Tak bermaksud ingin berwacana skeptis untuk umat muslimin, namun nampaknya kita juga harus melihat pengalaman pahit yang di alamani umat Yahudi dan Nasrani ketika mereka keluar dari kegelapan yang berujung kepada hidup yang lebih maju dan menguasai dunia. Lagi-lagi nampaknya kita harus melontarkan pertanyaan, ada apa dengan dua golongan umat ini sehingga ia mendominansi?. Bukankah yang dijamin Tuhan adalah Islam yang otenktik agama dariNya, dan mengandung nilai kemanusian juga keselamatan di dunia dan akhirat.

Untuk lebih memfokuskan bahasan singkat ini, nampaknya kita perlu mengetahui muara keterbelakangan yang menyinggapi alam bawah sadar kita. Hal ini menjadi penting karena pada umumnya masyarakat di berbagai kalangan memandang, majunya umat muslimin harus dengan simbol-simbolnya Arab bukan supstansi ajaran agama. Jadi bisa dipastikan bahwa lebih maju berkembang pesat atribut simbol dan sangat tertinggalnyan jauh yaitu pesan ajaran agama. Maka dalam hal ini sangat perlu membukakan diri untuk mendapat jawaban persoalan yang mengarah pada ketepatan dan menyampinkan dulu negative thinking atas tawaran metodologi baru. Artinya sumber pengetahuan itu datang dari berbagai sudut, berbagai kalangan, berbagai ras-suku, berbagai negara, berbagai benua, dan di seluruh penjuru dunia dan alam semesta ini tersimpan pengetahuan. Namun yang perlu kita pahami khususnya untuk umat muslimin adalah arti penting dari kata Albert Eiteim yaitu “ilmu tampa agama buta, dan agama tampa ilmu lumpuh”.

Kalangan muslimin mengalami kekeliruan, bukan pada agamanya namun sangat terlihat ketika tidak sanggup mengartikan arti dari tujuan hidup. Sehingga terjadi pemisahan antara urusan atas dengan bawah, urusan agama dengan dunia, urusan akhirat dengan kehidupan sosial. Tindakan masyarakatpun kemudian menjadikan agama hanyalah sebuah formalitas belaka. Padahal, di zaman modern ini perkataan agama khusus pada Islam telah di buktikan kebenarannya dengan pendekatan teknologi. Jadi tak ada alasan jika kita selalu memisahkan mana yang agama dan mana yang bukan urusan agama. Namun ironisnya sesuatu yang modern tak mendapat sambutan yang antusias dari kalangan muslimin, dan cenderung juga memisahkan hubungan modern dengan tujuan agama. Terkadang istilah kata modernpun pada sebahagian masyarakat muslimin telah bermakna buruk atau mengandung nilai negatif.

Gejala dikotomi pada masyarakat sering dijumpai, yang seolah-olah cara baru (modern) bukan bagian dari agama. Bagi sebahagian kalangan makna modern itu adalah Barat, tidak beretika, buruk, neraka, dan segudang makna lain yang terus memisahkan masyarakat yang beragama dengan hal yang modern. Masalah yang penting disini adalah, bagaimana “menciptakan masyarakat muslimin yang modern, bukan meciptakan modern yang tidak beragama”. Ada asumsi yang sangat sederhana yang melanda masyarakat takkala mengartikan modern itu adalah benda materi. Maka yang terjadi adalah suatu sikap konsumerisme-hedonisme pada dirinya. Hal ini terjadi karena bagi dirinya, jika telah mendapatkan benda-benda baru dan tidak mempertimbangkan apakah benda itu bermamfaat untuknya atau sekedar memilikinya hanya untuk status sosial, maka itu sudah memiliki nilai modern pada dirinya. Jadi memiliki benda yang baru itu adalah modern, sikap seperti ini merupakan sindrom yang di bawa beriringan pada zaman globalisasi industri yang membius pikiran manusia dewasa ini. Proses infeksi semacam ini yang terjadi pada masyarakat berlangsung tidak hanya masyarakat itu sendiri yang menghedaki, namun ada unsur lain yang mendukung gejala ini, misalnya keperpihakan media informasi tidak lagi berpihak pada rakyat secara penuh, namun ia juga berpihak pada kapital.

Dalam pengunaan bahasa Indonesia selalu dijumpai pengunaan kata misalnya modern, modernisasi, dan moderisme, namun apa sebenarnya modern itu. Kita juga sering menemukan wacana yang mengistilahkan “aliran-aliran modern”, “alirang modern dalam Islam”, dan “Islam dan Modernisasi”. Jika kita banyak menemukan masyarakat yang megistilahkan modern itu adalah benda materi yang canggih, namun kenapa modern di alamatkan juga pada kelompok masyarakat abat-abat tertentu yang bukan abat 20 dan 21 kebelakang. Bukankah medern itu bagi kita adalah abat 20-21. Bagi masyarakat Barat, makna modernisme mengandung arti “fikiran”, “aliran”, “gerakan” dan Usaha untuk merubah faham-faham adat-istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk di sesuaikan dengan suasana baru yang di timbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Di sini terlihat jelas bahwa jika masyarakat muslimin Indonesia mengartikan modern dengan upaya memiliki benda-benda produksi, justru di Barat di artikan modern adalah keluar dari permasalahan yang membelenggu mereka atau dengan istilah lain memproduksi hal baru. Dan proses memproduksi ini oleh Barat sudah di mulai semenjak tahun 1760 yang  mula-mulanya terjadi di Inggris (khusus dalam hal revolusi industri) dan meyebar kemajuan itu kebelahan masyarakat negara-negara Eropa yang lainya, hingga sekarang atas upanyannya itu merekalah yang mengedalikan dunia semuanya.

Hasil buah pikiran dan aliran yang masyarakat Eropa miliki, kemudian telah memasuki lapangan agama, dan modernisme dalam kehidupan keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katholik dan Protestan, dengan Ilmu pengetahuan dan filsafat Modern. Aliran ini akhirnya membawa kepada timbulnya sekulerisme di masyarakat Barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern kemudian juga memasuki dunia muslimin, terutama setalah pembukaan abad kesembilan belas, yang dalam literatur sejarah Islam di pandang sebagai permulaan periode modern. Kaum muslimin kemudian melakukan kontak dengan dunia Barat, selanjutnya membawa ide-ide ke dunia Islam, seperti paham rasionalisme, nasionalisme, demokrasi, dan sebagainya. Tantangan besar yang di alami oleh umat muslimin kemudian adalah, bagaimana agar gagasan yang baru itu bisa mendapat tempat sebagai bahan renungan.  Hal-hal yang baru inipun kemudian tidak semerta-merta berjalan dengan sebagaimana yang terjadi di Barat, namun hal inipun kemudian menimbulkan persoalan-persoalan baru pula di kalangan muslimin. Dan pemimpin-pemimpin Islampun kemudian khusunya di daerah mayoritas muslim memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru ini.

 Sebagai halnya di Barat, di dunia Islampun timbul pikiran-pikiran gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang di timbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Dalam konteks ini bukan ajaranya yang di modifikasi, namun yang di lakukan adalah pengikikisan tradisi-tradisi yang sudah lama melekat pada ajaranya, terutama tradisi Arab yang telah terlajur menyatu. Dengan jalan demikian pemimpin-pemimpin Islam modern kemudian mengharap akan dapat melepaskan umat Islam dari suasana kemunduran untuk selanjutnya di bawa kepada kemajuan. Seperti yang kita baca di atas, bawah kemajuan adalah hasil dari pengetahuan, dan ilmu pengetahuan itu tidak datang saja dari belahan Arab saja, namun ilmu pengetahuan itu sendiri ada di berbagai tempat, ia ada dari berbagai sudut, berbagai kalangan, berbagai ras-suku, berbagai negara, dan berbagai benua. Jika padangan kita seperti ini, maka relevan-lah dengan sabda Nabi Muhammad yang mengatakan “carilah ilmu sampai ke negari Cina”.

Bagi sebahagian kalangan, kata orientalis sangat menjijikan. Ini bisa di maklumi karena imperialis di sepanjang sejarah dunia ini yang di lakukan oleh masyarakat Eropa terhadap negara jajahannya tak akan mungkin akan lancar apa bila tidak melibatkan kaum terpelajar Eropa dalam hal ini mereka adalah individu-individu pintar (kaum Orientalis). Disisi lain, hasil penelitian kaum orientalis ini kemudian segera memasuki kedalam kajiannya umat muslimin. Kaum terpelajarnya Islam kemudian mulailah pula memusatkan perhatiannya pada perkembangan arti penting modern dalam Islam. kata modernisme pun kemudian mulai pula diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa yang tidak asing yang di pakai dalam Islam, seperti al-tajdid dalam bahsa Arab, dan jika dalam bahasa Indonesia berarti “pembaharuan”. Jika di perhatikan substansi kata pembaharuan memiliki makna yang sama dengan kata modern, namun istilah modern tidak populer untuk kalangan muslimin dan lebih populer dengan kata  al-tajdid, pembaharuan. Dan kata “pembaharuan” juga terkadang mengalami nasip yang sama. Bagi umat muslimin pada umumnya, kata modernisme dianggap mengandung arti negatif, namun tidak sedikit juga mengartikannya positif. Sebagaimana halnya di era industrialisasi abad sekarang ini, pada dasarnya teknologi itu di ciptakan untuk memudahkan manusia, namun tak jarang pula capaian kemajuan teknologi juga di gunakan untuk pemusnahan manusia.

Keterjebakan yang mendalam bagi masyarakat Indonesia khususnya pada sikap menganggap bahwa modernisasi itu adalah westernisasi. Sebernarnya  modernisasi dan westernisasi suatu hal yang sangat berbeda namun memiliki keterkaitan. Bahwa modernisasi itu identik dengan westernisasi memang padangan ini sangat sulit di hindarkan, seolah-olah sudah melekat pada sikap dan prilaku yang asumsi banyak kalangan tak terkecuali siapapun ia. Hal ini terjadi di karenakan banyak studi-studi menjelaskan bahwa sejarah modernisasi memang sejarahnya masyarakat Barat, seperti yang di alami masyarakat Eropa Barat dan Amerika Utara. Sehingga menjadi modern memang menjadi identik dengan “menjadi seperti orang Barat”.  Namun demikian, modernisasi dan westernisasi tetap dapat di bedakan secara tegas, karena ia memang sangat berbeda. Jadi menginginkan modern bukan terjadinya westernisasi. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa proses modernisasi terdapat pada teknologi atau organisasi sosial atau tata kerja. Semacam proses rasionalisasi, yakni perubahan tata kerja lama yang tidak rasional digantikan dengan tata kerja yang baru yang rasional. Sedangkan westernisasi lebih tepatnya kita katakan suatu prilaku, sikap, interaksi sosial, menjadi pribadi seperti orang Barat secara total. Dan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebahagian kalangan jika sudah mengalami hal yang demikian.

Di kalangan masyarakat muslimin khususnya di Indonesia, memiliki gaya hidup yang mirip dengan budaya Arab atau budaya Barat, itu merupakan pilihan modern, maka ini bukan dari semangat dari agama Islam. Yang sangat penting dari semangat Islam yang lebih tepatnya adalah memikirkan dan mencari formulasi terbaru sebagai bentuk nyata tindakan umat muslimin untuk memperbaiki di semua sektor yang memiliki kekurangan-kekurangan yang di terpanya, baik di lingkungan tingkatan pemasalahan pemerintah, urusan sosial, politik, ekonomi, sains dan yang lain-lainnya. Jika hal ini telah menjadi kesadaran umat muslimin, baru kemudian Islam benar telah menjadi sebagai agama rahmad untuk semuanya. jadi bukan agamanya saja yang mengatkan ia sebagai rahmad untuk manusia, melainkan manusia telah membuktikan atas berkat agama Islamlah manusia mendapat rahmad.  Maka di negara yang mayoritasnya umat muslimin tidak lagi ada anak yatim yang terlantar, korupsi, kriminal, kelaparan, dan sebagainya. Karena umat muslim sudah bisa menangkap pesan dari Alqur’an bukan sekedar membacanya dan menghafalkannya saja.

2 Balasan ke Memodernkan Masyarakat yang Beragama

  1. hasan berkata:

    god article

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s