Kronologi Kepemimpinan System Politik Islam

Oleh: Nofal Liata

Nabi Muhammad SWA adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan yang luar bisa, baik di lihat dari sudut ukurang agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu agama besar di muka bumi ini, yaitu sebuah agama yang sangat sempurna yang bernama agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan Muhammad tampil sebagai seorang pemain tanggu dalam dunia Politik, ekonomi, Sosial yang sangat efektif. Kini sesudah tiga belas abad rasulullah wafat dan pengaruhnya masih tetap sangat kuat dan berakar sangat dalam pada kaum muslimin.

Ketika lentera tauhid sudah padam di penjuru dunia, ketika kegelapan hampir menutupi akal manusia dan ketika ajaran tauhid tinggal segelintir saja. Allah shubhanahu wa ta ala berkehendak menurunkan risalah sawawi terakhir ke bumi. Di tengah derita kehidupan dan kegelapannya yang mencekam. Maka pada tahun 570 M di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, yaitu suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan, di situlah Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib di lahirkan ke muka bumi ini yang kelak di persiapkan menjadi seorang rasul pemimpin dunia. dialah pemimpin keturunan Adam, dialah hamba Allah dan rasul-Nya, dan dialah rahmad yang Allah berikan kepada umat manusia. Dalam firmaNya, “dan tidak kami utuskan enkau wahai Muhammad, kecuali sebagairahmad bagi semesta alam.”

Jika kita amati kutipan firman surat al-Anbiya di atas secara seksama, maka secara gamblang kita bisa melihat dengan proposional tentang jaminan dari Allah SWT untuk mengurus dunia dan Negara berdasarkan contoh yang telah di berikan oleh rasullulah yang mengacu pada sistem ajaran islam. Namun pada kenyataanya umat di muka bumi selalu lepas kendali dan sangat mudah terjadi konfrontasi baik sesama muslim, apalgi antara muslim dengan non-muslim. Jika demikian, sudah bisa dipastikan bahwa penghayatan dan pengamalan salah satu ayat 107 surat al-Anbiya ini oleh kaum muslim di tidak siknifikan. Di masa rasullulah, sistem pemerintahan islam yang murni yang berpedoman kepada Al-qur’an dan sunnah hanya bertahan selama kurang lebih empat puluh tahun dari sejak Madinah Munawarah di proklamirkan hingga berakhirnya khalifah Ali bin Abu Thalib. Pemerintahan Islam murni ini berlangsung terbagi kedalam dua periode, yaitu periode Rasullula Muhammad SAW selama sepuluh tahun dan periode para sahabat yang empat (khalifah rasyidah) adalah tiga pulu tahun.

Dalam perjalanan sejarah intelektual kaum muslimin. Umat muslimin telah melewati beberapa system-sistem politik dalam urusan bentuk kepemimpinan kepemerintahan suatu Negara. Di masa Rasulullah selama beliau memimpin di Madinatul Munawarah, adapun kepemimpinan beliau dalam mengatur Negara disebut dengan system politik Islam dengan nama, Minhajun nubuwah yaitu: sistem politik Islam yang di jalankan oleh Muhammad SAW selaku kepala pemerintahnya. Kedua, Khilafah ‘alaa minhajun nubuwah yaitu: system politik Islam yang berjalan pada masa Khilafah rasyidah, di mana system politik ini sering disebut dengan nama “sistem Khilafah” yang mengacu kepada system politik di masa Nabi SAW. Ketiga, Minhaj ahdul mulukal ‘aad yaitu:system politik non-Islam atau (kerajaan). System politik ini pernah di pakai dalam masa Islam pasca pemerintahan Khalifah rasyidah yaitu sejak Muawiyah berkuasa (Dinasti Umayyah), akan tetapih sekalipun system politik non-Islam yang dipakai, namun hukum Islam berjalan seadanya. Keempat, Minhaj ahdul mulukal jabbar yaitu: system politik non-Islam yang menguasai wilayah-wilayah penduduk manyoritas umat muslimin, sehingga system politik ini berwujud imperialis dan menjadi penguasa yang ganas. Kelima, Ahdul khilafah ‘alaa minhajun nubuwah yaitu: system politik Islam atau juga di sebut dengan system khilafah yang mengacu kepada system politik Islam pada masa Nabi SAW.

Rasulullah Muhammad SAW pernah suatu ketika mempredisikan dengan akurat bahwa berkenaan dengan periodisasi pemerintahan Islam yang akan berjalan sepeninggal (wafat) beliau., baik dalam arti bentuk maupun systemnya kepemerintahan. Pada masa Muhammad Rasulullah SAW masih ada, dan saat itu beliau meletakan batu pertama pembangunan mesjid Madinah dan kemudia beliau memanggil empat orang sahabat, yaitu: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Kemudian Rasulullah SAW bersabda ”mereka itu adalah khalifah sesudahku”. Rasullulah SAW sebagai Khalifahtulah, sangatlah mengerti dan menyadari bahwa dirinya adalah seorang manusia seperti pada umumnya yang juga akan mengalami kematian. Oleh karena itu suksesi kepemimpinan Negara Islam telah beliau wasiatkan kepada keempat orang sahabad. Sepuluh tahun kemudian, barulah wasiat rasulullah terwujutkan. Oleh kemudian dengan sebab wafatnya Rasulullah, maka di mulailah suatu pemerintahan Islam di mana yang memegang amanat kekuasaan adalah khalifah Umar ibn Khattab yang berkuasa dari tahun 634-644, kemudian Usman bin Affan penganti selanjutnya dari tahun 644-656, dan yang terakhir adalah Khalifah Ali bin Abu Thalib dari tahun 656-661. dalam kurun waktu tiga puluh tahun sesuai dengan predisi Rasulullah dalam haditsnya, kemudian masa pemerintahan Khalifah berakhir. Dalam masa pemerintahan kulafaurrasyidin inilah yang disebut sebagai periode pemerintahan kahlifah yang tetap berdasarkan minhajun nubuwah.

Berakhirnya masa khlifah ‘ala minhajun nubuwah, sebelumnya di dahului oleh suatu fitnah dimasa khalifah Usman bin Affan yang di lakukan oleh seorang munafiq yang bernama Abdullah bin Saba seorang Yahudi yang telah memeluk Islam pada masa khalifah Usman bin Affan. Ide bid’ah oleh Saba tentang akan kembalinya Nabi Muhammad ke dunia disebar luaskan dan pemahaman Saba ini di dasarkan atas suatu pemikiran yang tumbuh dalam agama Kristen yakni pemikiran Yesus akan kembali ke dunia ini menjadi juru selamat. Selain ide bid’ah itu, Abdullah bin Saba juga memiliki ide atau rencana untuk mengulingkan khalifah Usman bin Affan dari tampuk kekhalifahan dengan cara awal mensosialisasikan idenya ke waliyah-wilayah gubenur. Di Mesirlah Saba mendapat dukungan atas ide menurunkan Khalifah Usman bin Affan dan bahkan ide kriminal tersebul telah menjadi suatu tekat bulat kedalam bentuk rencana pembunuhan Usman bin Affan. Tak diduga ternyata rencana Saba berjalan mulus sesuai dengan yang ditargetkanya yaitu terbunuhnya Usman bin Affan dan porak-porandanya Islam yang menyebabkan tragedi ini merupakan cikal-bakal lahirnya dua golongan politik Islam yaitu golongan syiah dan golongan sunni di kemudian hari yang menghancurkan persatuan Islam dan memecah belah kaum beriman menjadi dua golongan.

Terbunuhnya Usman bin Affan lalu kemudian naiknya Ali bin Abu Thalib sebagai penganti Khalifah Usman bin Affan, namun tidaklah menhentikan konflik di masa itu. Bahkan dapat dikatakan bahwa konflik yang sesungguhnya baru di mulai, yaitu lebih spesifik konflik syiah dengan sunni. sehingga pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib menerima kenyataan yang pahit di mana konspirasi pembunuhan atas Usman bin Affan yang dibebankan kepada khalifah Ali untuk menyelesaikanya. Namun kemelut masalah ini tak kunjung selesai sehingga fitnah berikutnya di alamatkan lagi ke Ali bin Abu Thalib, dan panasnya konflikpun semakin memuncak di masa Khalifah Ali bin Abu Thalib. Pada masa beliaulah Asyiah binti Abu Bakar ra, yang telah diprofokasi oleh pihak yang mengkehendaki Islam lebih hancur lagi. Dengan mengadakan perlawanan terhadap khalifah Ali bin Abu Thalib dengan motif tuntutan bahwa Khalifah Ali tidak mampu menemukan siapa pembunuh Usman bin Affan. Dampak dari kemelut konflik yang tak kunjung selesai ini mulai dari masa Usma dan Ali, yakni Islam harus menerima kenyataan pahit lagi di mana golongan kaum muslimin terpecah lagi politiknya sehingga terbagi ketiga golongan politik Islam yaitu golongan syiah, sunni dan Khawarij.
Konflik politik pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib ternyata di mamfaatkan juga oleh Muawiyah bin Abu Sofyan yang menuntut Khalifah Ali bin Abu Thalib atas kematian Usman bin Affan. Pada akhirnya terjadi lagi pemberontakan Muawiyah bin Abu Sofyan sebagai gubenur, kepada Khalifah Ali bin Abu Thalib. Muawiyah bin Abu Sofyan adalah seorang politisi ulung dan dia masuk Islam ketika Mekah ditaklukan, ketika itu dia adalah seorang petinggi Quraisy. Berbagai takti politik pada masa itu digulirkan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan, demi mencapai tujuan utamanya yaitu menggatikan Khalifa Ali bin Abu Thalib. Tidak lama kemudian terjadilah pembunuhan terhadap Khilafah Ali Abu Thalib. Dengan terbunuhnya Khalifah Ali bin Abu Thalib maka berakhirlah pemerintahan politik Islam Khilafah ‘alaa minhajun nubuwah.

Dengan habisnya periode masa pemerintahan politik Islam Khilafah ‘alaa minhajun nubuwah maka pemerintahan berikutnya beralih kepada bentuk ahdul mulukal ‘aad di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abu Sofyan yang berkedudukan di Syam sebagai pusat pemerintahannya. Kemudian di hapuskanya pusat pemerintahan khilafah yang dulunya berada di Madinah lalu berada di Syam. Atas kronologi ini Rasulullah telah menyatakan dalam haditsnya, “Khilafah itu di Madinah dan kerajaan itu di Syam”. (al-Hakim & Bukhari).

Penggati Khilafah Ali bin Abu Thalib adalah Hasan bin Ali bin Abu thalib, yang berkuasa hanya enam bulan akibat kuatnya tekanan yang di hadapinya dan dengan pertimbangan mencegah agar tidak berupa fitnah yang semakin membesar lagi yang mengakibatkan kerusakan, maka pada akhirnya Khalifah Hasan bin Ali bin Abu Thalib mengundurkan diri dan kekuasaan pemerintahan dengan terpaksa harus menyerahkan kepada Muawiyah bin Abu Sofya. Nabi Muhammad Rasulullah SAW dalam haditsnya telah memprediksikan bahwa Hasan Bin Ali Abu Thalib adalah seorang yang telah di takdirkan untuk menjadi seorang pendamai bagi yang bertikai di antara dua kubu itu. Sebagai mana haditsNya, “Anakku ini Sayyid, dan muda-mudahan Allah mendamaikan dengan dia antara kedua golongan kamu muslim”. (Bukhari).

Dengan berakhirnya selama enam bulan masa pemerintahan yang di pegang oleh Khalifah Hasan bin Ali bin Abu Thalib itu, maka di mulailah kekuasaan yang di pegang oleh Muawiyah bin Abu Sofyan yang bertanda periode Khilafah ‘alaa minhajun nubuwah dan Islam sebagai system pemerintahan telah berakhir. Semenjak Muawiyah bin Abu Sofyan memegang kekuasaan dalam bentuk kepemerintahan maka telah berubah pulalah bentuk system politik kepemerintahan yakni dulu berbentuk Khilafah minhajun nubuwah menjadi bentuk kerajaan yang di sebut dengan nama periode ahdul mulukal ‘aad.

Di dunia akademik dalam study “islam historical science”, yang di sebut dengan istilah Dinasti Umayah itu adalah di namakan juga periode kepemerintahan ahdul mulukal ‘aad. Pada masa pemeritahan bentuk ahdul mulukal ‘aad ini kepemerintahan masih mengunakan Islam sebagai system dan syai’ah Islam masih digunakan sebagai aturan hukum untuk publik. Akan tetapih bentuk kepemerintahan telah berubah menjadi bentuk “Kerajaan”. Dengan demikian semenjak itu kepemerintahan dipegang secara turun-menurun berdasarkan nasabiyah (keturunan). Lamanya Dinasti Umayyah berkuasa adalah dari tahun 661-750, secara turun-menurun dari raja Muawiyah bin Abu Sofyan hingga yang terakhir Marwan bin Muhammad. Setelah Dinasti Umayyah berkuasa kemudian diganti oleh Dinasti Abbasyiah yang raja pertamanya yaitu Abu Al-Abas As-Saffah pada tahun 750. paham politik sunni oleh Dinasti Abbasyiah kemudian diganti pemegang pemeintahan oleh Dinasti Fathimiyah yang berpaham syiah. Dinasti Fathimiyah ini didirikan oleh Ubay Allah Al-Mahdi, yang kemudian di kenal dengan nama Al-Mahdi Fathimiyah (873). Dinasti Abbasiyah (sunni) yang tadinya telah lengser dari tampuk kekuasaan berhasil mengantikan Dinasti Fathimiyah, namun Dinasti Abbasyiah ini kemudian digantikan lagi oleh Dinasti Utsmaniyah yang berkuasa dari tahun (1517-1924).

System pemerintahan Islam dengan bentuk “Kerajaan” berakhir di Turki, dimana raja terakhir dari Dinasti Utsmaniyah ini yaitu Abdul Majid II yang kemudian digantikan oleh Mustafa Kemal sebagai Presiden Republik Turki. Dengan kerakhirnya kekuasaan Dinasti Utsmaniyah yang raja teakhirnya Abdul Majid II, maka berkhir pulalah system politik periode ahdul mulukal ‘aad yang berpegang pada Islam sebagai system pemerintahan dan pemerintahannya berbentuk kerajaan, kemudian di gantikan dengan system pemerintahan yang tidak samaskali Islami dimana syari’at Islam tidak lagi menjadi pegangan hukum untuk publik, atau gamabaran seperti ini disebut dengan istilah ahdul mulukal jabbar. Pada masa ini, Islam tidak lagi menjadi system dalam sebuah kekuasaan dan bentuk pemerintahan telah berubah yang mengunakan Demokrasi ala Plato. (Filosof Yunani kuno yang menjadi cikal bakal filosof politik Barat dan sekaligus pemikiran etika dan metafisika mereka “Barat” dan dilahirkan dari kalangan famili Athena sekitar tahun 427 SM.).

Kepemimpinan kepemerintahan yang berbentuk ahdul mulukal jabbar adalah tidak lain kepemimpinan yang di kendalikan oleh kerajaan-kerajaan Eropa yang telah bangkit kembali setelah kekalahan dalam perang salib. Kemudian berwujut menjadi imperialis sehingga mudah melakukan kolonialisasi atas wilayah-wilayah Islam. Itulah bentuk pemerintahan ahdul mulukal Jabbar yang termanifestasikan ke dalam bentuk pemerintahan demokrasi ala Plato.

3 Balasan ke Kronologi Kepemimpinan System Politik Islam

  1. islam is real and clear religion,we are moslems blieving allah and mohammad as our nabee

  2. iqbal berkata:

    artikel yg menarik…
    izin copas.. trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s