Pendudukan Israel Terhadap Palestinan

Oleh Nofal Liata

Seperti tidak habis-habis gejolak yang terjadi di negeri Palestinan, di negeri inilah semua permasalahan dunia di mulai. Berbagai kepentingan negera-negara di dunia mengambil peran masing-masing terhadap Palestina, tak luput Indonesiapun ikut serta dalam gejolak yang terjadi di Palestina walaupun tidak siknifikan bila di bandingkan dengan negara-negara dunia lain. Palestina ibarat sebuah laboratorium untuk masyarakat dunia, karena Paletina sebagai objek maka berbagai eksperimen diuji di sana dan di terapkan di negara ini. Misalnya kebijakan negara adidaya yang di tujukan ke Palestina, kecanggihan teknologi di pamerkan, aktifitas NGO, kecaman dunia, sampai penupahan darah manusia sering kita lihat. Singkat cerita Palestina telah menguras banyak energi masyarkat dunia, dan ada juga masyarakat dunia yang menginginkan Palestina harus bergejolak untuk kepentingan tertentuk.

Membicarakan negeri Palestina tentu harus juga membicarakan Israel, dan membicarakan Israel bukan saja membicaran masalah abad 20, tetapi disinilah semua akar permasalahan dunia di mulai. Perang Salip adalah salah satu bukti bahwa Palestina merupakan salah satu sumber utama pemicu yang mengakibatkan kubu Eropa mewakili agama kristen dan di kubu Timur Tengah mewakili agama Islam oleh bangsa Saljuk khalifah Al-hakim. Dan Perang Salib ini berlangsung selama lebih kurang dua ratus tahun lamanya yang terpaksa melibatkan agama antara Islam dan kristen. Suatu pertanyaan perlu kita utarakan lagi yaitu: Apakah membicarakan Palestina dan Israel harus di mulai dari  abad ke 11 ketika era Perang Salip itu berlangsung?. Terlalu sederhana jika suatu pandangan yang mencoba menjelaskan kemelut Palestina dan Israel berangkat dari abad 11. oleh sebab itu kurangnya pemahaman akan sangat mudah terjadi truth claim yang berkeliaran di dunia termasuk di Indonesia yang tak kunjung memuaskan, malahan semakin membingungkan dan semakin sering terjadi pertumpahan darah.

Islam, kristen, Yahudi dan kemelut sekarang di Palestina akan lebih tepat jika dibahas mulai dari kisah Ibrahim, atau bemula dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim yang pada saat itu adalah salah satu manusia di dunia yang sangat berani menentang kepercayaan yang mapan, dimana masyarakat di sekitarnya adalah penyembah berhala, bintang-bintang, dan penyembah penguasa. Dalam literatur sosok Ibrahim di kenal sebagai Bapak Monoteisme untuk keperyaan Yahudi, kristen dan Islam, selain itu dia juga di kenal sebagai sosok yang membawa angin “revolusi pemikiran” yang membawa pengaruh sangat besar untuk peradaban dunia kemudian. Dari perjalanan Ibrahimlah kunci jawaban atas kemelut Pelestina bisa di temukan. Dan pada tahap-tahap perjalanan waktu berikutnya kita bisa melihat bagaimana setiap bangsa dan negara tertentu mengambil peran siknifikan berdasarkan kemampuan di era kejaannya untuk melakukan interfensi terhadap arah umat Yahudi dan tekanan terhadap Palestina.

Pada abad  20 SM, atau sekitar 4000 tahun yang lalu di kota Ur (tanah Khaldea) Bani Israel bermula. Kota Ur di sebut juga Ur Khashdim, daeran ini merupakan salah satu kota terpenting di negeri Mesopotamia. Sekitar tahun 2018 SM pada saat itu lahir Ibrahim ke muka bumi yang merupakan anak dari seorang Ayah yang bernama Azar dan ibunya bernama Terah. Takala Ibrahim telah beranjak dewasa, ia menentang penyembahan berhala dan mengajarkan kepada orang tuanya agar menyembah Allah YME. Padahal orang tuanya Ibrahim sendiri adalah pembuat Tuhan atau pengrajin patung dewa-dewa untuk masyarakat negeri itu. Pada suatu ketika ibrahim menghancurkan segala berhala yang di sembah kaumnya itu yang mengakibatkan marahnya masyarakat kepadanya. Kemudian kabar penghacuran ini akhirnya sampai juga ke telinga sang Raja di tanah Kahldea, yaitu Raja Namrud.

Pertentangan antara Ibrahim dengan Namrud semakin tajam, dan Ibrahim akhirnya memutuskan untuk meniggalkan tempat kelahirnya. Sebelumnya ia pernah mendapatkan sangsi sang Raja yaitu di bakar hidup-hidup namun itu bukan apa-apa bagi seorang Nabi utusan Allah SWT.  Pengembaran Ibrahim terjadi pada tahun 1943 SM menuju ke negeri kanaan, yaitu sekarang kita mengenalnya negeri Palestina. Daerah ini dalam agama yahudi di sebut sebagai “tanah yang dijanjikan” Tuhan. Namun sebelum sampai ke Kanaan Ibrahim dan kaum pengikutnya, pernah singgah di beberapa wilayah seperti tinggal di Babylonia, ke Harran, kemudian ke Kanaan. Di Kanaan mereka mereka menetap seperti yang di pertintahkan Tuhan, namun kemudian mereka kembali mendapat ujian yaitu bencana kemaurau yang panjang yang kemudian memaksa mereka mencari pemunkiman baru.

Mesir adalah tujuan kaum ibrahim berserta keluarga keberikutnya, di negeri ini kemudahan di berikan kepada mereka sebagai pendatang baru, sehingga mereka dapat bekerja dan mengumpulkan harta benda. Namun ketenangan ini tidak bertahan lama, suatu ketika pembesar Mesir ingin memiliki Sarah istrinya Ibrahim. Dengan adanya hal yang demikian akhirnya Ibrahim berserta keluarganya kembali lagi ke Kanaan dengan serta membawa kekayaan dan membawa seorang wanita Mesir bernama Siti hajar, dan ibrahim menikahinya. Dari pernikahan dengan Hajar Ibrahim mendapatkan seorang anak yang di beri nama Ismail dan di besarkan di Makkah. Setelah dewasa Ismail menikah dengan seorang perempuan dari suku Jurhum, kemudian dari keturunan dua pasangan inilah lahir nabi Muhammad Saw pada aba ke 6 M.

Sekitar tahun 1981 SM, Ibrahim memperoleh keturunan dari istri yang bernama Sarah, kemudian anaknya itu di beri nama Isaac atau Ishak. Ishak kemudian di berkati oleh Ibrahim untuk bertugas melanjukan janji Tuhan yang belum terwujut yaitu, “keturunan Ibrahim akan menjadi bangsa besar dan selalu di berkatiNya”. Ishak kemudian dinikahkan dengan Ribka seorang gadis yang berasal dari Mesopotamia, gadis itu masih berasal dari kerabat Ibrahim. Tahun 1850 SM lahirlah dua anak kembar hasil dari penikahan Ishak dengan Ribka yang diberi nama Esau dan Ya’qub. Nama Yaqub yang di berikan oleh Ishak juga di kenal dengan sebutan Israel, dan anak keturunannya di sebut anak-anak Israel atau Israelitas di kemudian hari dan seterusnya. Dari garis keturunan Ishak inilah banyak melahirkan rasul-rasul kemudian hari, termasuk Nabi Isa a.s, yang di kenal dalam kepercayaan kristen sebagai Yesus.

Dua belas orang anak Ya’qub adalah Rubin, Syam, Syam’un, Levis, Zebulan, Yasshakar, Yahuda, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin. Dalam waktu relatif singkat israelitas mempunyai keturunan yang sangat banyak dan mereka berkembang menjadi suku-suku yang besar serta mereka melakukan pengembaraan dari suatu tempat ke tempat lain untuk mencari tempat yang subur. Kedua belas putra Ya’qub inilah dan keturunannya yang merupakan sejara Bani Israel yang akan membentuk suatu karakteristik khas dan kemudian menjelma sebuah bangsa (nation) yang di akui oleh bangsa lain di kemudian hari, dan mereka menepati tanah yang di janjikan yaitu “tanah kanaan” (Palestina). Seperti Klaim mereka bahwa tanah Kanaan adalah tanah warisan untuk anak dan cucu-cucu Ibrahim yang dikalim sebagai hak milik mereka.

Yusuf adalah Putra kesebelas dari Yaq’ub, dia adalah putra yang sangat mendapat perhatian khusus dari ayahnya sehingga dia tidak di sukai oleh saudara-saudaranya. Dengan adanya kejadian itu akhirnya Yusuf terbuang dari komunitas akibat perlakuan saudaranya yang iri atas kecintaan Yaq’ub berlebihan kepada Yusuf. Mesir merupakan menjadi tujuan Yusuf, dan keberadaan orang Israel di Mesir adalah Yusuf  yang pertama mengawalinya. Setelah mengalami kepahitan beraneka macam oleh Yusuf, diantaranya menjadi pengembala domba, pembantu rumah tangga raja, dan seorang tahanan, akhirnya dia menjadi pembesar istana yang bertanggung jawab atas harta benda istana dan kemakmuran rakya Mesir. kemudian dia di angkat menjadi perdanan menteri kesejahteraan Mesir. Di bawah pengaturan Yusuf, Mesir terhindar dari kehancuran ekonomi. Ketika menjabad menteri kebijaksanaan dan kebaikan Yusuf terlihat juga ketika ia meyelamatkan para orang tua dan saudaranya keturunan Irael dari kelaparan,  kesengsaraan dan kepunahan. Padahal saudaranya dulu pernah mengitimidasi dan mengucilnya dulu. Sebanyak 66 orang yang di toloh oleh yusuf akhirnya di suruh pergi ke Mesir dan di beri tempat tinggal subur oleh Yusuf. Bertahun-tahun lamanya Bani Israel tinggal di Mesir dan mereka hidup tentram, dan jumlah mereka kian bertambah. Di lain sisi mereka hidup terpisah dari masayarakat Mesir, baik dari dimensi agama, budaya maupun sosial kemasyarakatan.

Setelah Yusuf meninggal dunia di usianya yang ke 110 tahun, pelindung mereka Bani Israel tidak ada lagi dan mereka tetap di anggap sebagai orang asing. Ketidak senangan orang–orang Mesir sudah terlihat dari dulu, buntut dari ketidak senangan ini berujung pada konflik sosial.  ketika Mesir tidak lagi di perintahkan oleh raja yang tidak mengingat jasa Yusuf, mulailah mereka mempengaruhi rakyatnya untuk mendiskreditkan Bani Israel. Kemudian raja mulai mengumpulkan ahli fikir untuk mengetahui seluk-beluk riwayat kaum Bani Israel, dan bagaimana harus semestinya mereka di perlakukan. Maka kemudian di sepakati bahwa bani Israel harus dijadikan hamba sahaya (budak perahan) untuk rakya Mesir. Langkah pertama untuk menekan laju pertumbuhan Bani Israel adalah dengan cara mewajibkan bagi mereka untuk berkerja paksa dalam bidang, membangun kota Piton, kota Ramses, kerja paksa membangun Piramid makam raja, pengembala ternak, petani dan ragam kerja buruh lainya.

Ketika raja fir’aun Ramses II memegang kekuasaan, dikelurkan undang-undang yang menetapkan bahwa “setiap anak bayi laki-laki Israel yang lahir wajib untuk di bunuh dan membiarkan anak perempuan untuk hidup”. Bagi wanita Israel yang lain dipaksa untuk menikah dengan Pria Mesir, dengan demikian maka keturunan Israel tidak berlanjut dan yang berlanjut adalah keturunan Mesir. Hal demikian merupakan larangan keras bagi kaum Iarael (Yahudi) karena menjaga kemurnian darah bangsa Yahudi.

Seorang keturunan Israel bernama Imran tak luput juga harus mengalami ketatnya peraturan yang di buat Fir’aun. Akhirnya ia juga terpaksa membuang anak bayi laki-lakinya itu yang baru lahir ke sungai Nil dan ia meletakannya di sebuah kotak kayu. Atas kehendak Allah, maka bayi tersebut hanyut dan di temukan oleh keluarga Fir’aun. Kemudian keluarga Fir’aun merawatnya dan diangkat anak temuan tersebut menjadi anak angkat dan di beri nama Moses atau Musa, yang berarti putra. Sejak saat itu, mulailah sejarah agama Yahudi, dan sejak itupula sejarah Bani Israel menyatu dengan sejarah Yahudi yang melekat pada sosok diri Musa. Ketika Musa di besarkan di linkungan kerajaan Fir’aun dan dididik sebagai anak raja. Di luar istana kaumnya Musa bangsa Israel semakin mederita di perlakukan semena-mena oleh orang Mesir, mereka hidup tertindas, menjadi budak yang tidak mempunyai hak apapun.

Hari berlalu-tahunpun berganti seiring Musa bertambah dewasa, kemudian ia mendengar penderitaan kaumnya di Mesir semakin berat. Ia pergi berkeliling untuk menjumpai mereka. Di suatu tempat, Musa melihat orang Mesir memukul orang Ibrani. Dengan segera Musa memulai tugasnya membela kaum Bani Israel. Dan kemudian orang yang memukul Bani Israel itu di bunuhnya oleh Musa dan mayatnya disembunyikan agar tidak ketahuan orang-orang Mesir. Akan tetapi perbuatan Musa ini ketauan juga oleh raja Fir’aun. Bersamaan bertabah kedewasaan Musa pula, dan Fir’aun mencapai puncak kejayaanya, Tuhan memerintahkan Musa untuk menyelamatkan kaumnya. Musa menghadap Fir’aun untuk memohon agar di ijinkan membawa bangsa Israel keluar Mesir, namun upaya ini tidak dijinkan oleh Fir’aun karena orang-orang Israel sangat di butuhkan oleh Fir’aun untuk tenaga buruh paksa. Selain itu fir’aun mengetahui juga bahwa Musa menghadapnya atas perintah Allah sang pencipta alam semesta. Hal itu sangat bertentangan dengan kekuasaan fir’aun yang merasa dirinya adalah sebagai Tuhan yang harus disembah.

Berulangkali Musa memintak izin kepada fir’aun namun tidak mebuahkan hasil, akhirnya Allah menurunkan azap kepada fir’aun dan kaumnya, diataranya air sungai berubah menjadi darah, wabah penyakit built dan bisul, ganguan tuma, hama wereng, firus mematikan hewan-hewan, hujan deras beserta petir-petir besar yang termasuk anaknya fir’aun tersambar, namun semua itu tidak juga membuat fir’aun insaf. Dan pemusuhan Musa dengan fir’aun semakin menajam. Kemudian atas petunjuk Tuhan akhirnya Musa berserta kaumnya keluar dari Mesir yang telah mereka tepati selama kurang lebih 430 tahun lamanya.  Atas mukjizat Allah kaum Bani Israel sebanyak 600.000 jiwa atas tuntunan Musa dan Harun keluar dari Mesir, dan hal ini membuat Fir’aun sangat marah, kemudian bersama bala tentaranya Fir’aun mengejar Musa beserta kaumnya. Pada saat itulah Allah mendatangkan azap terhadap fir’aun dan tentaranya dengan menenggelamkan fir’aun dan tentaranya di tengah-tengah laut merah.

Bani Israel sering skali menyalahi janji kepada Musa dan tentang hukum Allah. Oleh karena itu mereka selalu di peringatkan dengan di beri cobaan dalam masa pengembaraan, selama 40 tahun di semenanjung Sinai, sebelum memasuki tanah Kanaan. Sesuai dengan wasiat Musa sebelum wafat, Bani Israel di pimpin oleh Yusak bi Nun salah seorang sahabat Musa. Sebanyak 470.000 orang Israel lengkap dengan pasukanya memasuki Palestina setelah mereka telah banyak membunuh masyarakat Kanaan, yaitu masyarakat Palestina yang di jumpai. Dengan peristiwa ini mulailah zaman Bani Israel memerintah palestina. Yusak memimpin mereka sangat kejam dan bengis dan membunuh manusia yang tidak berdosa, yang berbeda dengan cara Musa memerintah. kemudian Palestina di bagi menjadi dua belas daerah sesuai dengan jumlah suku bani Israel, maka didirikan pemerintah yang di kenal dengan nama “pemerintah para hakim”. Adapun yang memegang kendali pemerintahan adalah para hakim (imam) yang di pilih oleh kaumnya masing-masing.

Masa kejayaan Bani Israel di Jarusalem, sejarah mencatat selama 40 tahun Daud berkuasa, prestasi gemilang dapat di capainya yang belum pernah di capai pada periode sebelumnya. Usaha yang pertama yang di lakukannya adalah menghancurkan perlawanan bangsa Filistin dan menaklukan bangsa-bangsa yang berdekatan dengan wilayah mereka, dan menguasai secara mutlak Kanaan. Kemudian Daud menyatukan kedua belas suku Israel. Puncak kejayaan pemerintah Daud adalah ketika dia menjadi penguasa selama kurun waktu 1042-972 SM. Dan dia juga mampu menciptakan perdamain dan menciptakan kesejahteraan bagi bangsa Israel. Sebelum Daud meninggal, Daud telah mengangkat putranya Sulaiman untuk mengantikan dirinya (raja), dan Daud perpesan supaya Sulaiman melakukan ibadah hanya kepada Allah, dan memelihara hukum-hukumnya dan firman yang tertera dalam kita Taurat Musa. Daud juga berpesan supaya mendirikan Haikal sebagai tempat beribadah kepada Allah.

Masa kemunduran bangsa Israel mulai pudar ketika Sulaiman meninggal pada tahun 935 SM, dan digantikan oleh putranya Rehobeam yang hanya di dukung oleh dua suku saja, yakni suku Yahuda dan suku Benyamin. Sedangkan sepuluh suku israel lainya tidak mengakuai kepemimpinan Rehobeaam, dan mengangkat Yerobean sebagai raja dan dia juga salah satu putra Sulaiman.

Pada tahun 738 SM, pasukan Asiria di bahwa pimpinan Raja Tiglath Pilisar III menyerang dan menguasai kerajaan Israel dengan menepatkan mereka dalam perbudakan dan kesengsaraan. Tahun 721 SM  Sargon II mengetahui recana orang Israel untuk melakukan pemberontakan, maka dengan cepat Sargon menghancurkannya,  dan orang Israel terpisah keseluruh daerah, sehingga persatuan kebangsaan Israel hancur dan menghilanng dari sejarah.

Pada tahun 606 SM kerajaan Babilonia menyerang kerajaan Yahuda dan menduduki kerajaan kota Yerusalem. Bala tentara Nebukadnezar melakukan pembantaian besar-besaran terhadap rakyat, kaum pendeta, wanita dan anak-anak. Di samping itu puluhan ribu orang Yahudi di buang ke Babylonia sebagai tawanan dan dijadikan budak. Tentara Babylonia merampok harta benda, membakar Yarusalem dan Baitul Maqdis, raja terakhir Yahuda, yang bernama Siqiyah bin Yawaqim dibunuh juga. Maka pada tahun 587 SM kerajaan Yahuda berakhir.

Kehancuran kerajaan Yahuda merupakan awal masa pembinasaan dan pembuangan. Orang-orang Yahudi mulai terpisah dari kesatuan etnis, dibuang dan keluar dari batas-batas wilayah itu yang dikenal dengan masa “diaspora” (pembuangan). peristiwa ini diyakini sebagai akibat dari bahwa raja-raja dan rakyat Bani Israel telah meninggalkan aqidah dan telah melanggar larangan Allah. Oleh karena itu, Allah menghancurkan kerajaan mereka.

Bibliografi

 

Bahjat Ahmad, Esiklopedi Nabi-nabi Allah, (Yogyakarta), al-manar 2007.

Lewis Bernard, Kemelut Peradaban Kristen Islam dan Yahudi, (Yogyakarta) IRCiSoD, 2001.

Hermawati, Sejarah Agama & bangsa Yahudi, (jakarta) Raja Grafindo Persada, 2005.

Souy’b Joesoef, Agama-agama Besar di Dunia, (Jakarta), Pustaka Alhusna, 1993.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s