Dating Violence Pada Remaja


Oleh : Nofal Liata

Dating Violence (Kekerasan) atau sering sekali kita mengistilahkan hal tersebut dengan menyebut KDP (Kekerasan Terhadap Perempuan) adalah meliputi segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan diluar hubungan yang sah. Dalam hal ini sering sekalali kita menjumpai kasus di kalangan remaja sebagai pelaku dan umunya mereka tidak mengenal terhadap adanya larangan keras terhadap prilaku kekerasan pada pasangannya. Istilah pacaran adalah sebuah ungkapan ekspresi mereka terhadap pasangannya yang di berikan perhatian khusus. Kebuntuan dalam bersikap remaja kerapsakali mengakibatkan kekerasan yang dilakukan oleh pasangan. Sebagaimana definisi kekerasan terhadap perempuan yang dibuat oleh PBB, yaitu: “Tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan karena asumsi gendernya, yang menyebabkan atau akan menyebabkan penderitaaan secara fisik, seksual atau psikologis bagi perempuan, termasuk ancaman, pemaksaan atau pembatasan kebebasan bergerak, baik yang terjadi di dalam ataupun di luar rumah.” (Declaration on the elimination on violence against woman: passed by UN General Assembly, 1993).

Kekerasan merupakan masalah yang kompleks, karena menyangkut berbagai aspek seperti aspek hukum, aspek sosial dan aspek kesehatan. Kekerasan merupakan juga salah satu bentuk penyimpangan yang terjadi di likungan sekitar kita dan adapula hal tersebut terungkap di hadapan hukum, namun tidak sedikit pula hal ini tetutup karena sedikitnya informasi yang bisa dicerna oleh remaja itu sendiri. Dalam kajian sosiologi hal ini merupakan bentuk yang dikategori tindakan penyimpangan sosial karena akan menyebabkan bertentangan dengan norma, moral dan Agama secara normatif.

Pacaran yang di lakoni oleh remaja seusia SMP, SMU bahkan kalangan mahasiswa adalah juga salah satu bentuk dari pergaulan manusia yang ditawarkan oleh masyarakat dan kebudayaan Barat pada kaum muslimin diseluruh dunia, takterkecuali Aceh yang nota-benek menerapkap Syariat Islam sebagai acuan hukum namun sikap pacaran realitasnya remaja Aceh sudah mengenal lama trend tersebut. Pacaran biasanya dimulai dari sikap pertemuan tatap muka secara sengaja dan tidak sengaja, kemudian terjadi perkenalan, pertemuan, saling tertarik, pernyataan cinta di lengkapi dengan bergandengan tangan. Dan hal yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat dari sikap pacaran adalah bisa saja terjadi pergaulan kearah yang lebih jauh yang mirip dengan hubungan pasangan suami-istri. Jika memiliki pengetahuan yang sangat-sangat sederhana bagi remaja Aceh maka sangan berpotensi pacaran menghantarakan pemuda pemudi mendekati perbuatan yang melanggar norma moral dan Agama. Oleh sebab itu Dating violence kebanyakan dialami oleh kalangan remaja karena cara berfikir remaja yang di bentuk salah satu dari trend lingkungan sebagai gaya hidup (life style). Kemudian pacaran hanya berarti sekedar untuk mencari status indentitas dan kesenangan semata.

Dalam pandangan Psikologis masa remaja di asumsikan sebagai masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa, atau bisa disebut masa puber sebagai usia kematangan seksual, selain itu bagaimana bersikap dengan lawan jenis, masa perkembangan dan pembentukan sikap, karakter, dan mental yang dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari dalam maupun dari luar secara sengaja ataupun secara tidak sengaja.

Dating violence jika di artikan hanya yang mengalaminya cuma di kalangan perempuan saja, ini merupakan pandangan yang tidak seutuhnya benar, pada kenyataannya dari pihak laki-laki juga bisa di temukan bentuk kekerasan yang terjadi walaupun perempuan jika di bandingkan dengan laki-laki maka perempuanlah yang sangat rentan terjadi. Bentuk dari dating violence bukan saja tindakan berupa gesekan fisik, tetapi juga bisa berupa non fisik dan bahkan seksual. Perlu kita ketahui bahwa semua tindakan kekerasan itu akan berdampak buruk bagi setiap korban kekerasan itu sendiri. Tindakan yang berakibat luka fisik juga bisa akan berujung pada menyebabkan trauma psikis yang ini mungkin sangat membekas di pikiran sikorban, malah jika hal ini berlangsung begitu saja tampa kepedulian sekitar maka akan sangat mungkin terjadi bagi sikorban mengalami kendala ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan untuk bersosial akibat tekanan depresi. Jenis perilaku dating violence atau kekerasan terhadap pasangan bisa berupa kekerasan yang bersifat: emosional, fisik, ekonomi, sosial dan seksual, dan untuk memudahkan melihat setiap bentuk-bentuk dari sikap ini maka dapat di lihat sebagai berikut. Bentuk dari kekerasan emosional seperti diabaikan, dicaci maki, diintimidasi, dikerasi, dimarahi didepan publik, diputuskan hubungan secara keras, dituduh berselingkuh, dan dituntut untuk tampil sempurna. Bentuk dari kekerasan fisik seperti, dipukuli, ditampar, mendorong kepala, mengunakan benda sebagai alat pukul, dan ditendang. Bentuk dari kekerasan ekonomi seperti barang dipinjam tidak di kembalikan, diperas, penipuan, iming-iming kosong, dan dimanfaatkan. Bentuk kekerasan sosial separti dikekang, dibatasi, pendiskriminasian, dan diisolasi. Bentuk dari kekerasan seksual seperti diperlakukan tidak senonoh, dilecehkan, dipaksa hubungan intim, dan tindakan pamaksaan aborsi.

Manusia adalah makhluk sosial, oleh sebab itu dalam memenuhi hajat dan keperluannya mereka memerlukan bantuan dan kerjasama orang lain karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, sehingga mereka tidak dapat menghindarkan diri dari pergaulan bersama orang lain yang ada di sekitarnya. Karena manusia sebagi makhluk yang bersosial yang tidak dapat hidup sendiri maka pergaulan adalah salah satu kebutuhan yang diperlukan bersama-sama sehingga tercipta sebuah masyarakat dan yang memiliki budaya. Di lingkungan budaya itu sendiri terkadang unsur penerimaan penyerapan budaya luar yang datang tak bisa terelakan melalui berbagai jenis media yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Terserapnya life style gaya Barat pada orang timur khusunya Aceh adalah permasalah yang perlu di tanggapi secara bijak dan adalah tanggung jawab semua kalangan masyarakat Aceh. Sehingga dating violence walaupun tidak bisa dimusnakan secara total dengan mengandalkan adanya perangkat hukum yang jitu, paling tidak dating violence bisa bisa diminimalisirkan pada remaja dan pemuda Aceh dengan sikap yang arif dan bijaksana. Dukungan dalam bentuk pemberian informasi pada remaja juga salah satu yang tidak kalah penting untuk mencegah kekerasan model ini.

Salah satu yang bisa membatasi terjadinya dating violence adalah dengan cara penguatan pengetahuan dan pengamalan Agama. Agama mempunyai peranan yang penting untuk mengendalikan masyarakat dari hal-hal yang bertentangan dengan ajarannya. Agama secara esensial memberikan aturan baik yang berupa cara berhubungan vertikal maupun horizontal. Agama merupakan pondasi penting bagi seorang individu dan Agama mendorong manusia untuk bersikap-berbudi pekerti yang baik untuk mencapai kehidupan yang bahagia. Dengan memiliki pengetahuan Agama yang baik dan iman yang kuat, maka setidaknya remaja dapat mencegah diri dari tindakan yang mendekati pada kerugian, dalam hal ini adalah dating violence itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s