Ali Syari’ati Yang Terlupakan Dalam Ilmu Sosiologi

Oleh: Nofal liata

[]

Selama ini posisi kedudukan ilmu yang bersumber dari “Barat” sebagai pengkaji timur, bahkan lebih jauh lagi adalah sebagai penggagas sebuah teori tertentu. Di linkungan kajian akademis sering mereka ini di kategorikan sebagai para orientalisme yang telah memberikan atau menimbulkan kompleksitas-kompleksitas tertentu. Antara lain sikap superioritas Barat di satu pihak, dan di pihak lain inferioritas Timur sebagai objek kajian. Dengan kata lain kita belajar dalam bidang akademik manapun baik yang berupa ilmu eksak dan non-eksak adalah dituntun berdasarkan dari satu kelompok ideologi saja yaitu perspektif Barat. Pada kenyataanya ilmu itu sendiri bukan semata-mata ada di belahan dunia bagian Barat, melainkan di seluruh penjuru dunia ilmu bisa kita dapatkan, bahkan ilmu-ilmu tersebut telah menjadi sebuah teori-teori (disiplin ilmu tertentu) yang sangat membantuk kita untuk melihat realitas dan menemukan jawaban atas permasalahan dengan pendekatan kajian teori non-Barat.

            Kondisi semacam ini, yaitu belajar di tuntun oleh Barat telah merisaukan banyak kalangan yang mulai skeptis memandang Barat. Sehingga ada upaya-upaya yang dilakukan agar mencapai suatu titik keseimbangan antara Barat dan Timur. Dan upaya tersebut salah satu yang dilakukan oleh tokoh ini, ia mencoba untuk memberikan keseimbangan untuk masyarakat akademis. Adalah guru besar filsafat Universitas Kairo, ia adalah Hassan Hanafi dengan oksidentalis-nya. (ilmuan timur yang mengkaji Barat).

            Sekalipun para pakar ilmu komunikasi berulangkali menyadarkan kita mengenai keberlangsungnnya proses globalisasi yang membuat jarak ruang semakin dekat, namun dari sudut padang hubungan antar-ideologi, budaya dan agama, proses globalisasi ternyata tidak serta-merta menjadikan wajah dunia menjadi seragam. Sedangkan kajian tentang oleh orientalisme sudah memiliki akar tradisi yang cukup panjang di dunia akademik Barat. Orientalisme yang sudah berkembang berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun yang cenderung dijadikan sebagai alat ideologi Barat untuk melakukan imperialisme terhadap dunia belahan timur.

            Berasal dari dunia belahan Timur, seorang sosiolog dari keluarga miskin tatapih terhormat karena keulamaan orang tuanya. Ia benama Ali Syari’ati yang memperoleh gelar Doktor di Universitas Sorbone Prancis. Lahir pada tanggal 24 November 1933 di desa Manzinan propinsi Khurasan, Iran. Bernama lengkap Ali Syariati bin Muhammad Taqi Syariati. Mendapat pendidikan awalnya dari orang tuanya sendiri dan pada malam hari ia belajar membaca Al-qur’an, selain itu dia juga belajar mengenai dasar-dasar pengetahuan agama. Ketika siang menjelang, ia seorang yang giat bekerja membantu orang tuanya dalam mencari nafkah.

            Di sekolah swasta Ibn Yamin pada tahun 1944 Ali Syari’ati memulai pendidikan dasarnya. Kemudian pada tahun 1950 dia menamatkan sekolah menengah atas Ferdowsi, dan pada tahun itu juga ia masuk Kolese Pendidikan Guru Masyhad, dan tamat pada tahun  1952. adapun pernikahanya dengan seorang gadis yang bernama Pouran berlangsung pada tahun 1958, dan setelah lima bulan menikah ia melanjutkan studinya ke Fakultas Sastra Persia Masyad. Setelah bergelut menjalani studi selama tiga tahun disitu, akhirnya ia memperoleh gelar BA. Pada tahun 1959, karena kecedasannya dan keluasan wawasanya akhirnya ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke Paris. Di negeri inilah, ia mendapatkan kesempatan untuk mengembankan pemikirannya yang kemudian dikenal demokratis, liberal sosialis bertuhan.  Di Universitas Sorbon inilah ia belajar dengan tekun dan memperoleh Doktor dalam bidang Sosiologi dan Sejarah Agama.

            Ali Syariati sebagai seorang pemikir sosial pada abad ke 20, sering ia di sejajarkan dengan pemikir-pemikir islam besar lainya seperti Sayyid Qutb (1906-1966) dan Jamaluddin al-Afghani (1839-1897). Ketika berada di Francis, Ali Syari’ati telah menyatukan orang-orang Iran yang ada di Eropa dan Amerika dalam satu wadah organisasi yang dinamakannya dengan Front National Iran. Adapun tujuan dari organisasi ini yaitu untuk mereformasikan pemerintahan Iran. Syari’ati dengan organisasi yang diketuinya itu, merupakan lahan tempat meningkatkan kemasyhuran dan keberanian dalam membongkar kezaliman dan kediktatoran Iran yang sedang berkuasa. Karena kevokalannya itu Ali Syari’ati dalam menentang rezim yang telah menyimpang, maka ia menjadi target dari intelejen rahasia Iran (SAVAK). Tidak hanya dicurigai dan dimata-matai oleh SAVAK, tetapi ia juga telah berhasil dijebloskan ke penjara ketika pulang ke Iran.

            Setelah keluar masuk penjara, tepatnya tahun 1976, Syari’ati berhasil meloloskan diri ke Paris dan beberapa waktu kemudian ia juga pergi ke London. Tidak hanya kota-kota ini yang menjadi target dari kepergian Ali Syari’ati, ia sebenarnya juga merencanakan pergi ke Amerika Serikat. Tetapih sebelum sampai di sana Ali Syari’ati telah meninggal secara misterius di rumah temanya di Inggris pada bulan Juni 1977. kematianya itu di duga kuat di sebabkan oleh kerja dari intelejen rahasia SAVAK.

            Dalam hal gerak kesejahteraan manusia, Ali Syari’ti berpendapat bahwa: “manusia dalam menyejarah, (membentuk sejarah). memiliki “kebebasan dan sekaligus keterpaksaan”. Khusus yang disebut “keterpaksaan” inilah yang kemudian dinamakan sebagai konsep determinisme historis. Dalam artian, adanya kepastian-kepastian sejarah yang berlaku dalam masyarakat manusia. Dengan istilah lain adanya hukum sejarah yang tetap, dan yang tidak, akan diketahui oleh seseorang kalau ia tidak memperlajari dan mengabil pelajaran secukupnya dari peristiwa yang telah terjadi.

            Manusia dapar membuat semuanya atau memiliki kebebasan, tetapih sekaligus tunduk pada determinisme, (pandangan bahwa pilihan manusia itu dikuasai oleh kondisi sebelumnya). Menurut Syari’ati, kerangka determinisme merupakan hukum umum yang mengatur proses perkembangan sosial dan sejarah. Hal ini sesuai dengan pemikiran Hegel yang cenderung berpendapat pada pembentangan progresif pada suatu kemutlakan atau ideal. Manusia sebagai makhluk, merupakan manifestasi kehendak Allah, yaitu kehendak pada serba kesadaran akan mutlak (khaliq). Kemudian disisi lain, ia sebagai khalifah-Nya di alam ini. Oleh karenanya sejarah tidak mungkin terjadi secara kebetulan, peristiwa terjadi tampa campur tangan Tuhan, tampa tujuan, tampa maksud dan makna. Tetapih sejarah berawal dari titik tertentu dan harus berakhir pada titik tertentu dengan tujuan dan arah tertentu pula.

            Menurut seorang sosiolog islami dan tokoh yang terkenal idealis syi’ah ini Ali Syari’ati, gerak majunya sejarah dalam islam adalah demi terwujutnya kesadaran akan Allah sebagai Khaliq. Bagi Syari’ati, proses transpormasi dialektis, merupakan kunci bagi perkembangan sosial dan sejarah. Ia menerima metode dialektika Hegel, di mana tesis, antitesis  dan sintesis dapat memperjelas watak umum perkembangan sejarah apapun, termasuk sejarah islam tertentu. Lebih jauh Syari’ati berpendapat apabila ingin menganalis suatu gerakan, ideologis, filsafat, agama dan revolusi dalam sejarah umat manusia. Maka akan terlihat tiga hal pokok yang  terdapat esensinya. Pertama adalah cinta dan mistisme. Kedua perihal kebebasan. Ketiga perihal pengupayaan keadilan sosial.

              Mitisme menurutnya merupakan perwujudan alamiah esensi keingintahuan manusia, yang mendesaknya untuk merenungkan tentang wujut non-material di dunia ini. Oleh karenanya pemikiran seorang tentang hal ini akan membawa orang itu pada pemahaman hal yang metafisis, di samping membuatnya mampu berkembang ke arah kesempurnaan spiritual Ilahiyah.

            Adapun perihal mengenai “kebebasan”, Ali Syari’ati  berpendapat bahwa, kebebasan individu merupakan kebebasan parsial. Sedangkan kebebasan yang di formulasikan oleh Islam, berorientasi pada tujuan yang menjamin kebahagian, kebebasan sempurna dan hakiki, dari yang segala yang membelenggu.

            Berkaitan dengan pengupayaan keadilan sosial, menurut Syari’ati merupakan suatu yang di idamkan oleh masyarakat. Menurutnya, sistem yang dapat memberikan persamaan dan keadilan sosial adalah sosialisme, yang mungkin tidak dapar disamakan dengan sosialisme model Karl Marx. Sosialisme yang di maksut oleh Syari’ati lebih bersifat etika, dan karenanya masyarakat yang ideal  menurutny adalah masyarakat yang berdasarkan sistem ekonomi sosialis, yang di atur oleh nilai etika dan spiritual yang berdasarkan keimanan kepada Allah.

            Tidak berlebihan jika kita melihat pandangan seorang teoritikus tebersar lainya namun ini hanya dalam bidang ilmu alam, ia adalah Albert Einstein (1879-1917) dan seorang pemenang Hadiah Nobel tahun 1921 dalam sumbangannya di bidang ilmu fisika. Mengenai permasalahan hubungan “ilmu dan agama” ia pernah mengeluarkan gagasanya yang sangat cemerlang dan menjadi perhatian serius untuk mayarakat dunia khususnya bagi para ilmuan.  Einstein berpendapat bahwa ilmu tampa agama adalah buta, dan agama tampa ilmu adalah lumpuh..

BIBLIOGRAFI

Hasan hanafi, Orientalisme  Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, (Jakarta Selatan: Paramadina, anggota IKAPI) 2000.

Jujun S.Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu, (Jakarta:Yayasan Obor Indonesia),  2001.

Misri A.Muchsin, Filsafat Sejarah Dalam Islam, (Jogjakarta: Aruzz Press, Khazanah Pustaka Indonesia), 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s